Heyyo sahabat blogger. Udah lama nih gak jumpa. Apa kabarnya? Semoga baik-baik saja yaa. Sebenernya bingung mau nulis apa di blog ini. Soalnya udah lama sekali ditinggalkan. Ibarat buku, mungkin sudah berdebu kali yaa. Ohh yaa, gua juga ingin memberitahu, bahwa mungkin gua akan pindah ke blog #SyairCintaaku. Blog ini akan tetap ada, mungkin hanya untuk menjadi kenangan saja. Kedepannya, gua akan usahakan untuk rajin update di blog baru gua, meskipun hanya sekedar tulisan sampah saja. Dah yaa hanya itu aja yang ingin disampaikan. Terima Kasih. ^_^
CERITA KAKMANS
Cita-cita, Impian, Harapan, Tujuan, dan Cinta. ^_^
Tuesday, October 1, 2019
Thursday, January 18, 2018
Tahun Baru, Lembaran Baru, Cerita Baru, Semangat Baru, dan Sejarah Baru
Hallo
sahabat blogger, akhirnya kita bisa berjumpa lagi nih setelah sekian lama tidak
bertemu. Hehehe, pada kangen gak sama saya? Kalo saya sih kangen banget sama
kalian. Kangen aktif di blog ini lagi. Sebelumnya, selamat tahun baru 2018
untuk kita semua. Semoga ditahun ini, kita bisa jauh lebih baik daripada
tahun-tahun sebelumnya. Tahun baru, lembaran baru, cerita baru, semangat baru,
dan sejarah baru. Kenapa saya mengatakan itu? Karena pada akhir tahun 2017,
saya memutuskan untuk berhenti kuliah di tempat saya sebelumnya.
Saya
keluar bukan tanpa alasan, karena banyak sekali yang mengganjal di dalam hati
saya. Mungkin sebelumnya sudah pernah saya jelaskan tentang kampus saya. Mulai dari
sistemnya yang aneh dengan menggunakan caturwulan, bukan semester. Sampai akhirnya
status saya yang tidak jelas di kampus itu. Memang sih dari awal saya terpaksa
kuliah disitu dan bukan keinginan saya juga, tetapi karena faktor keadaan.
Saya
akan menceritakan kronologi saya keluar dari kampus itu. Namun saya akan
menyamarkan nama kampusnya dengan nama-nama bunga. Saya kuliah di kampus mawar.
Sebulan setelah saya kuliah disitu, akhirnya saya mendapatkan NIM. Namun kata
bidang akademiknya, NIM itu baru bisa di cek di dikti setelah 6 bulan. Kemudian
saya tetap kuliah seperti biasa sampai UAS.
Ketika
hasil UAS atau IP dibagikan, saya bingung dengan semuanya. Sebab dikertas itu
tertulis kalau saya terdaftar di kampus kejora. Saya tidak tau kampus kejora
itu dimana? Saya search di google, ternyata kampus kejora ada di Jakarta Timur.
Lohh kok, kenapa saya bisa sampai kesitu? Kemudian saya kembali mengecek nim
saya di dikti untuk memastikan, tetapi NIM saya masih belum ada, dan adanya
kalau tidak salah sekitar 8 bulan lebih deh. Dan lebih anehnya lagi, saya malah
terdaftar di kampus anggrek, bukan mawar atau kejora.
Udah
gitu Cuma nama saya aja yang muncul, sedangkan riwayat studinya masih kosong. Lahh
saya bingung, dimana itu kampus anggrek? Meskipun masih sekitar Bekasi, tetapi
saya belum pernah mendengar nama kampus itu. Sebenarnya saya kuliah dimana sih?
Mawar, kejora, atau anggrek? Kemudian saya bertanya kepada senior saya, kenapa
bisa begini? Saya kan kuliah disini, kenapa malah di daftarkan disana?
Senior
saya dengan polosnya menjawab bahwa memang seperti itu sistem di kampus ini. Di
tempat ini Cuma buat belajar doang, tetapi lulusannya nanti di kampus lain. Saya
semakin bingung dengan maksud dari senior saya. Saya merasa ada yang tidak
beres dengan kampus saya. Kemudian saya searching di google, ternyata kampus
anggrek pernah di non aktifkan oleh dikti. Saya semakin terkejut membacanya. Saya
ingin bertanya kepada pihak kampus, tetapi saya juga tidak enak hati. Saya takut
menyinggung mereka.
Saya
tetap melanjutkan kuliah, meskipun memang ada beban dalam hati saya. Tetapi hati
saya selalu memberikan 2 pilihan, antara bertahan dan keluar. Memang saya ingin
keluar, namun saya merasa sayang aja, apalagi saya udah caturwulan 4. Terus
saya juga tidak enak hati jika meninggalkan teman saya. Meskipun memang yang
barengan dengan saya hanya 5 orang saja.
4
bulan kemudian, atau lebih dari setahun saya kuliah disitu. Saya kembali
mengecek di dikti. Tetapi riwayat studi saya masih kosong juga. Lalu selama
setahun ini, saya belajar apa aja dong? Kenapa riwayat studi saya masih kosong?
Saya bertanya kepada temen saya, apakah dia juga sama seperti saya? Ternyata
dia juga sama. Saya semakin bingung, ada apa dengan ini semua? Apakah benar
kabar tentang ijazah bodong itu benar?
Hati
saya semakin dibuat tidak karuan. Teman saya bertanya kepada pihak kampus,
kenapa riwayat studinya masih kosong. Kemudian pihak kampus menjawab bahwa saya
beserta keempat temen saya di pindahin status kuliahnya, bukan di kampus
anggrek lagi, tetapi di kampus cempaka. Lahh dimana lagi itu kampus cempaka? Sebenarnya
saya ini mahasiswa mana sih? Kenapa kampus saya gonta ganti mulu? Kenapa saya
malah seperti mahasiswa selundupan?
Demi
untuk masa depan saya, dan saya juga tidak ingin uang yang diberikan orang tua
saya untuk biaya kuliah terbuang sia-sia karena status saya yang tidak jelas,
akhirnya saya berkata kepada teman-teman saya kalau saya pamit dan berhenti
kuliah. Teman saya bertanya, kenapa saya keluar. Saya hanya menjawab bahwa
jurusan kuliahnya tidak cocok dengan saya. Padahal sebenarnya hati saya selalu
resah, terbebani dan tidak tenang selama kuliah disitu.
Lalu
saya berkata kepada nenek saya juga kalau saya keluar dari kuliah. Nenek saya
agak menyayangkan, namun setelah saya jujur mengatakan semua alasannya,
akhirnya nenek saya juga mendukung saya. Bahkan dia menyuruh saya untuk mencari
kuliah yang lebih baik lagi. Teman-teman sekolah saya dulu, dan saudara-saudara
saya juga saya beritahu. Tetapi saya tidak mengatakan keluar, saya hanya mengatakan
bahwa saya pindah kuliah.
Memang
ada yang belum mengetahui hal ini, yaitu kedua orang tua saya. Saya ingin
mengatakannya, tetapi saya takut mengecewakan mereka. Padahal mereka menaruh
harapan yang besar sekali kepada saya. Saya gak mau lama-lama seperti ini, lalu
saya langsung mencari kampus baru lagi untuk saya. Kebetulan kampus yang memang
dari SMK saya inginkan, membuka pendaftaran semester genap, atau khusus kelas
malam/karyawan. Meskipun saya belum bekerja, tetapi tidak ada salahnya jika
saya mendaftar disitu. Tohh kampus itu memang yang seharusnya saya tuju dari
dulu.
Kemudian
saya mengajak tetangga saya untuk mengantarkan saya mencari tempat kuliah.
Awalnya saya tidak berkata bahwa saya ingin mendaftar, saya hanya mengatakan
bahwa ada berkas kampus yang harus saya berikan. Sesampainya disana, saya
langsung bertemu dengan bagian pendaftaran. Lalu saya mendaftar, dan jurusan
yang saya pilih juga berbeda dengan jurusan saya sebelumnya. Jika dulu saya
mengambil jurusan manajemen, kini saya mengambil jurusan ilmu komunikasi.
Setelah
mendaftar, teman saya bingung, dan bertanya kenapa gua malah daftar ulang lagi.
Akhirnya saya berkata jujur, dan mengatakan semuanya juga kepada teman saya. Dia
juga turut menyayangkan keputusan gua, tetapi dia mendukung apa yang gua pilih.
Tetapi dia juga agak menyesal, kenapa saya tidak daftar di kampus tempatnya dia
menuntut ilmu. Saya hanya mengatakan kalau kampusnya dia tidak ada jurusan yang
saya inginkan.
Meskipun
kampus yang saya tuju ini masih terbilang baru, yaa baru didirikan sekitar
tahun 2014. Tetapi kampus itu sudah resmi terdaftar di dikti, tidak seperti
kampus saya sebelumnya. Saat ini tempat belajarnya memang masih menyewa ruko,
tetapi bukan berarti tidak memiliki gedung sendiri. Kampus itu baru membeli
gedung bekas sekolahan, dan sekarang lagi dalam tahap renovasi. Kemungkinan besar,
ketika awal saya masuk kuliah, maka di gedung baru itu saya akan belajar. Angkatan
saya adalah angkatan ke-7 dari kampus itu, dan katanya sih angkatan saya adalah
angkatan pertama yang akan menempati gedung itu. Wahh bersyukur sekali saya
dong.
Saya
memang akan memulai kuliah dari semester awal lagi. Tetapi demi masa depan yang
lebih baik, kenapa saya harus mengeluh. Semoga saja apa yang saya pilih ini
memang tepat. Dan dimulai dari kampus itulah saya akan memulai tahun baru
dengan lembaran baru, cerita baru, semangat baru, dan sejarah baru. Semoga saja
saya bisa diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menempuh pendidikan, dan
semoga saja saya juga bisa memberitahu akan hal ini kepada kedua orang tua
saya. Karena tidak enak jika hal ini terus berlarut saya sembunyikan.
Mereka
juga berhak tau, karena mereka juga yang membiayai. Saya juga ingin bekerja,
hitung-hitung untuk meringankan beban orang tua saya. Tetapi saya juga tidak
mau sembarangan dalam mencari pekerjaan. Saya tidak terlalu tergiur dengan
penghasilan yang besar. Tohh jika pekerjaan itu tidak dijalankan dengan hati,
percuma saya. Penghasilan kecil pun tak masalah, asalkan memang sesuai dengan
keinginan saya dan tentunya hobi saya. Karena pekerjaan paling menyenangkan di
dunia adalah hobi yang dibayar.
Mungkin
hanya ini yang bisa saya sampaikan. Apabila ada kesalahan kata atau kata-kata
yang kurang sopan, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena saya memang
manusia biasa yang tidak pernah lepas dari kesalahan. Tak lupa saya juga
mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada sahabat blogger karena
telah setia untuk membaca dan mengunjugi blog saya. Pokoknya jangan pernah
bosan yaa untuk mengunjungi blog saya. Jika ada yang mau memberikan masukan
kepada saya, silakan komen dibawah aja yaa. Saya akan merasa senang jika kalian
juga memberikan masukan, saran, atau kritik kepada saya. Sekali lagi, Terima
Kasih. ^_^
Wednesday, October 4, 2017
Untuk yang Terindah, yang Pernah Mampir
Kita selalu mencari tentang apa yang tidak kita dapat. Hingga seringkali lupa dengan apa yang sudah kita punya. Teman, keluarga, lingkungan, skill, pacar, saudara, kekayaan, karier, cinta, harapan, tawa, kebebasan, kesehatan, ketenangan, keunikan. Ada hal-hal yang kita punya, ada hal-hal yang kita inginkan. Dan seringkali kita tidak begitu adil dalam bersikap. Kepedulian kita hanya bertumpu dengan apa-apa yang kita inginkan.
Terkadang saya berpikir, bagaimana damainya hidup dalam penerimaan. Menerima segala pemberian Tuhan lalu memaklumi segala yang tidak kita dapatkan karena memang dunia ini adil, adil karena dunia tidak adil pada semua orang. Terdengar cukup adil. Bukan, bukan berhenti berusaha, tentu semua yang kita dapatkan, mampu kita miliki karena usaha, lebih pada tau kapan harus berhenti dan menyadari bahwa banyak hal yang harus dibenahi dibanding fokus dengan hal yang mungkin digariskan memang bukan untuk kita.
Saya mau dan saya ingin, menerima dengan lapang dan melepas dengan ikhlas. Mencintai tanpa tapi dan menyayangi tanpa ragu. Melihat dengan mata, lalu mencerna dengan logika. Saya ingin diri saya tau, bahwa bukan dia orangnya, yang pertama akan saya lihat saat nanti saya membuka mata. Bukan dia orangnya, yang harus saya jaga dengan segenap hati saya. Bukan juga dia orangnya, yang harus kenangan indahnya saya ganti dengan luka. Hanya menjadi seperti orang-orang lain, yang biasa dalam hidup saya.
Saya ingin diri saya menyadari, bahwa tidak setiap yang mampir harus menjadi selalu special. Mereka pernah dan sudah tidak. Saya harus selesai dengan kebohongan yang membahagiakan. Saya harus belajar kembali untuk terbiasa dengan realita yang menyakitkan. Bagaimanapun itu lebih nyata, tidak terlalu semu, juga lebih ada ujungnya. Saya harus pahami, juga kasihani diri. Bahwa kita terlalu berharga untuk sekedar menjadi alas.
Saya harus malu dengan sperma lain yang rebutan posisi dengan sperma yang akhirnya menjadi saya. Bagaimanapun saya adalah sperma terbaik yang berhasil menempati posisi saya. Saya harus belajar juga bahwa tidak cinta bukan selalu tentang benci. Itu bisa dipelajari setelah saya menghilangkan cintanya nanti. Hal yang sulit memang, namun harus saya biasakan.
Untuk kamu yang membaca ini dan tau bahwa ini untuk dirimu, saya persilahkan dengan keikhlasan yang saya usahakan, untuk melanjutkan kisah-kisahmu. Cerita hidupmu yang belum selesai. Andaikata ada waktu untuk kita berjumpa, saya tidak akan meneror dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya kebohongan. Mungkin saya akan gunakan kesempatan itu, untuk menatap jauh ke dalam matamu, dan menyesali kenapa saya tidak menjadi yang terbaik. Saya berhak bersedih, saya akan kehilangan cinta dalam hidup saya.
Jangan larang saya menangis, saya terbiasa mandiri. Saya bisa memasak mie instan sejak umur 4 thn, sejak duduk di TK 0 kecil. Jangan mengasihani saya, maaf saya kurang terlalu membutuhkannya. Saya terpisah dari abang kandung saya, saat saya sedang membutuhkan panutan untuk hidup. Saya kehilangan ibu saya karena perceraian kedua orang tua saat saya remaja, kelas 2 smp. Saya pernah ditinggal teman-teman saya. Seringkali kehilangan cinta. Semua itu saya lalui sendiri, sekarang, saat kamu akan meninggalkan saya, saya sudah siap dengan itu. Saya sudah paham betul bahwa manusia tidak berhak atas kebebasan manusia lain sebelum adanya ikatan yang sah.
Saya membebaskan kamu, yang saya minta hanya satu. Jangan berlagak seolah kamu adalah pahlawan atas diri saya, untuk hidup saya. Jangan bertingkah seakan kamu yang dapat membantu menyembuhkan luka, padahal luka itu kamu yang membuat. Jangan berlaku seakan saya menyalahkan kamu, saya tidak meminta apapun dari kamu kecuali kebahagiaan kamu. Bahagiakan dirimu, dengannya. Kamu pantas bahagia setelah apa yang telah kamu lewati.
Kamu berhak bahagia dengan atau tanpa saya. Juga seperti sebelumnya, saya tersingkir dan tersungkur. Tapi saya selalu punya cara untuk menyembuhkan diri. Saya punya teman, pekerjaan, kemampuan, keluarga, yang akan hilang dari saya hanya cinta pada kamu. Yang tidak lagi akan saya terima dalam hari-hari saya adalah cinta dari kamu. Tidak, saya tidak akan menuntut lebih pada Tuhan, karna pada saat ini, cinta yang saya dapat sudah melebihi cinta yang saya pinta.
Saya berhak merasakan derita, setiap manusia harus. Jangan khawatir, saya tau betul kapan saya harus bangkit. Saya tau dan sedikit mengerti bahwa hidup adalah tentang serangkaian pilihan. Dan rangkaian pilihan-pilihan dalam hidup kita mempertemukan saya dan kamu. Kita bisa memilih untuk bersama, namun kemudian kamu memilih tidak. Saya bisa memilih untuk menunggumu, pilihan yang sangat menggoda. Tapi saya percaya bahwa kunci dalam hubungan adalah rasa penghargaan dari kedua belah pihak, pilihanmu rasa-rasanya kurang menghargai saya.
Entah, dengan yakinnya diri saya setelah menulis tentang ini, apakah tidak akan saya kembali padamu lagi, rasa menginginkanmu selalu datang lagi dan lagi. Kamu adalah adiktif yang paling candu. Saya tidak mengingkarinya. Saya yakin cara untuk berdamai adalah dengan mengakui dan menyadari keadaannya. Tapi setiap sakit ada obatnya. Tiap luka ada sembuhnya. Tiap patah ada tumbuhnya. Di tiap tutup juga ada bukaan baru. Juga ada rehabilitasi untuk setiap candu.
Menemukan berarti banyak, kehilangan berarti sedikit. Kedatangan berarti banyak, kepergian berarti sedikit. Tidak ada yang baik jika terlalu banyak atau sedikit. Porsi sesuai yang selalu kita cari. Setiap orang yang saya temui memiliki perbedaan dan ciri tersendiri. Saat ini yang memenuhi kepala saya adalah segala aspek dan ciri-ciri tentang kamu. Sebagai perpisahan, saya pamit dengan cara yang baik. Agar tidak malu saat nanti jumpa kembali.
Tulisan ini akan selalu mengingatkan saya tentang kamu. Saya akan membaca ini jika saya rasa rongga di dada saya menyebabkan sesak. Saya baca kembali untuk menyadarkan saya bahwa kamu bukan orang yang pantas menyakiti saya. Hanya orang jahat yang boleh menyakiti, kamu bukan. kamu baik. Selalu baik untuk saya. Baik untuk dikenang, juga pemicu saya agar tidak berhenti berjuang. Berjuang menjadi pribadi, menjadi orang, menjadi manusia yang lebih bijaksana memaknai apa-apa yang terjadi dalam hidup.
Kamu bukan musuh saya, tidak akan pernah. Kamu adalah orang yang pernah saya gantungkan kebahagiaan saya pada kamu. Kamu juga yang menyadarkan saya bahwa manusia, tidak boleh bergantung pada manusia lainnya. Setidaknya bila kita tidak bersama, kita pernah sama-sama. Setidaknya salah satu dari kita ada yang bahagia. Setidaknya saya berusaha membuatmu merasa berharga. Sekarang, saya akan membuat hidup saya juga berharga. Sampai jumpa....
Dikutip dari ficofachriza.com
Terkadang saya berpikir, bagaimana damainya hidup dalam penerimaan. Menerima segala pemberian Tuhan lalu memaklumi segala yang tidak kita dapatkan karena memang dunia ini adil, adil karena dunia tidak adil pada semua orang. Terdengar cukup adil. Bukan, bukan berhenti berusaha, tentu semua yang kita dapatkan, mampu kita miliki karena usaha, lebih pada tau kapan harus berhenti dan menyadari bahwa banyak hal yang harus dibenahi dibanding fokus dengan hal yang mungkin digariskan memang bukan untuk kita.
Saya mau dan saya ingin, menerima dengan lapang dan melepas dengan ikhlas. Mencintai tanpa tapi dan menyayangi tanpa ragu. Melihat dengan mata, lalu mencerna dengan logika. Saya ingin diri saya tau, bahwa bukan dia orangnya, yang pertama akan saya lihat saat nanti saya membuka mata. Bukan dia orangnya, yang harus saya jaga dengan segenap hati saya. Bukan juga dia orangnya, yang harus kenangan indahnya saya ganti dengan luka. Hanya menjadi seperti orang-orang lain, yang biasa dalam hidup saya.
Saya ingin diri saya menyadari, bahwa tidak setiap yang mampir harus menjadi selalu special. Mereka pernah dan sudah tidak. Saya harus selesai dengan kebohongan yang membahagiakan. Saya harus belajar kembali untuk terbiasa dengan realita yang menyakitkan. Bagaimanapun itu lebih nyata, tidak terlalu semu, juga lebih ada ujungnya. Saya harus pahami, juga kasihani diri. Bahwa kita terlalu berharga untuk sekedar menjadi alas.
Saya harus malu dengan sperma lain yang rebutan posisi dengan sperma yang akhirnya menjadi saya. Bagaimanapun saya adalah sperma terbaik yang berhasil menempati posisi saya. Saya harus belajar juga bahwa tidak cinta bukan selalu tentang benci. Itu bisa dipelajari setelah saya menghilangkan cintanya nanti. Hal yang sulit memang, namun harus saya biasakan.
Untuk kamu yang membaca ini dan tau bahwa ini untuk dirimu, saya persilahkan dengan keikhlasan yang saya usahakan, untuk melanjutkan kisah-kisahmu. Cerita hidupmu yang belum selesai. Andaikata ada waktu untuk kita berjumpa, saya tidak akan meneror dengan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya hanya kebohongan. Mungkin saya akan gunakan kesempatan itu, untuk menatap jauh ke dalam matamu, dan menyesali kenapa saya tidak menjadi yang terbaik. Saya berhak bersedih, saya akan kehilangan cinta dalam hidup saya.
Jangan larang saya menangis, saya terbiasa mandiri. Saya bisa memasak mie instan sejak umur 4 thn, sejak duduk di TK 0 kecil. Jangan mengasihani saya, maaf saya kurang terlalu membutuhkannya. Saya terpisah dari abang kandung saya, saat saya sedang membutuhkan panutan untuk hidup. Saya kehilangan ibu saya karena perceraian kedua orang tua saat saya remaja, kelas 2 smp. Saya pernah ditinggal teman-teman saya. Seringkali kehilangan cinta. Semua itu saya lalui sendiri, sekarang, saat kamu akan meninggalkan saya, saya sudah siap dengan itu. Saya sudah paham betul bahwa manusia tidak berhak atas kebebasan manusia lain sebelum adanya ikatan yang sah.
Saya membebaskan kamu, yang saya minta hanya satu. Jangan berlagak seolah kamu adalah pahlawan atas diri saya, untuk hidup saya. Jangan bertingkah seakan kamu yang dapat membantu menyembuhkan luka, padahal luka itu kamu yang membuat. Jangan berlaku seakan saya menyalahkan kamu, saya tidak meminta apapun dari kamu kecuali kebahagiaan kamu. Bahagiakan dirimu, dengannya. Kamu pantas bahagia setelah apa yang telah kamu lewati.
Kamu berhak bahagia dengan atau tanpa saya. Juga seperti sebelumnya, saya tersingkir dan tersungkur. Tapi saya selalu punya cara untuk menyembuhkan diri. Saya punya teman, pekerjaan, kemampuan, keluarga, yang akan hilang dari saya hanya cinta pada kamu. Yang tidak lagi akan saya terima dalam hari-hari saya adalah cinta dari kamu. Tidak, saya tidak akan menuntut lebih pada Tuhan, karna pada saat ini, cinta yang saya dapat sudah melebihi cinta yang saya pinta.
Saya berhak merasakan derita, setiap manusia harus. Jangan khawatir, saya tau betul kapan saya harus bangkit. Saya tau dan sedikit mengerti bahwa hidup adalah tentang serangkaian pilihan. Dan rangkaian pilihan-pilihan dalam hidup kita mempertemukan saya dan kamu. Kita bisa memilih untuk bersama, namun kemudian kamu memilih tidak. Saya bisa memilih untuk menunggumu, pilihan yang sangat menggoda. Tapi saya percaya bahwa kunci dalam hubungan adalah rasa penghargaan dari kedua belah pihak, pilihanmu rasa-rasanya kurang menghargai saya.
Entah, dengan yakinnya diri saya setelah menulis tentang ini, apakah tidak akan saya kembali padamu lagi, rasa menginginkanmu selalu datang lagi dan lagi. Kamu adalah adiktif yang paling candu. Saya tidak mengingkarinya. Saya yakin cara untuk berdamai adalah dengan mengakui dan menyadari keadaannya. Tapi setiap sakit ada obatnya. Tiap luka ada sembuhnya. Tiap patah ada tumbuhnya. Di tiap tutup juga ada bukaan baru. Juga ada rehabilitasi untuk setiap candu.
Menemukan berarti banyak, kehilangan berarti sedikit. Kedatangan berarti banyak, kepergian berarti sedikit. Tidak ada yang baik jika terlalu banyak atau sedikit. Porsi sesuai yang selalu kita cari. Setiap orang yang saya temui memiliki perbedaan dan ciri tersendiri. Saat ini yang memenuhi kepala saya adalah segala aspek dan ciri-ciri tentang kamu. Sebagai perpisahan, saya pamit dengan cara yang baik. Agar tidak malu saat nanti jumpa kembali.
Tulisan ini akan selalu mengingatkan saya tentang kamu. Saya akan membaca ini jika saya rasa rongga di dada saya menyebabkan sesak. Saya baca kembali untuk menyadarkan saya bahwa kamu bukan orang yang pantas menyakiti saya. Hanya orang jahat yang boleh menyakiti, kamu bukan. kamu baik. Selalu baik untuk saya. Baik untuk dikenang, juga pemicu saya agar tidak berhenti berjuang. Berjuang menjadi pribadi, menjadi orang, menjadi manusia yang lebih bijaksana memaknai apa-apa yang terjadi dalam hidup.
Kamu bukan musuh saya, tidak akan pernah. Kamu adalah orang yang pernah saya gantungkan kebahagiaan saya pada kamu. Kamu juga yang menyadarkan saya bahwa manusia, tidak boleh bergantung pada manusia lainnya. Setidaknya bila kita tidak bersama, kita pernah sama-sama. Setidaknya salah satu dari kita ada yang bahagia. Setidaknya saya berusaha membuatmu merasa berharga. Sekarang, saya akan membuat hidup saya juga berharga. Sampai jumpa....
Dikutip dari ficofachriza.com
Thursday, September 14, 2017
Akulah Spiderman
Hallo
sahabat blogger, kita bertemu lagi nih. Maaf yaa udah jarang update di blog.
Soalnya emang bingung banget mau update tentang topik apa. Tapi untung aja
beberapa hari ini ada teman saya yang lagi membicarakan mengenai super hero.
Alhasil terlintaslah dipikiran saya untuk menulis sebuah tulisan menganai salah
satu super hero, khususnya super hero kesukaan saya, yaitu Spiderman.
Jadi
kenapa saya menyukai Spiderman? Dan kenapa bukan super hero yang lain?
Padahalkan banyak super hero yang kemampuannya lebih baik daripada Spiderman.
Terus apa spesialnya Spiderman dibandingkan dengan super hero yang lainnya?
Tentu saja saya akan menjelaskannya di dalam tulisan ini. Okeh deh, silakan
disimak yaa semuanya.
Jadi
saya menyukai Spiderman, karena memang Spiderman adalah super hero pertama yang
saya ketahui. Apalagi waktu itu saya memiliki PS 1, dan ada permainan
Spidermannya. Makanya sejak saat itu, saya sudah mulai suka dengan Spiderman.
Waktu itu ada 2 versi permainannya, yaitu Spiderman 1 dan Spiderman 2. Kalau
gak salah di Spiderman 1, musuh terakhirnya adalah Electro. Sedangkan di
Spiderman 2, musuh terakhirnya adalah penggabungan Dr. Octopus dengan Carnage.
Hampir
setiap hari saya memainkan kedua permainan itu sampai tamat, yaa meskipun
dibantu oleh om saya. Walaupun usia saya pada saat itu memang masih kecil
sekali. Tapi saya sudah cukup mengerti memainkannya. Kemudian saya dan om saya
juga bermain bersama memainkan permainan Ultimate Alliance. Dan lagi-lagi di
permainan itu, saya memakai karakter Spiderman. Sedangkan om saya memakai
karakter Wolverine, karena super hero kesukaan om saya memang itu.
Saya
juga pernah berkata bahwa saya ingin sekali menjadi Spiderman. Saya ingin
melindungi dunia dan juga melindungi orang-orang yang saya sayangi, khususnya
keluarga saya. Lalu orang tua saya membelikan saya kostum Spiderman anak-anak
beserta dengan topengnya. Hampir setiap hari saya memakai kostum itu. Berlari kesana kesini dan berkata bahwa Akulah Spiderman. Karena
saya memang bahagia sekali bisa memilikinya.
Kemudian
orang tua saya juga membelikan saya boneka laba-laba dan boneka Spiderman yang
berwarna hitam. Saya semakin bahagia sekali, dan saya semakin bangga menjadi
Spiderman. Karena saya menyukai Spiderman, ayah saya juga pernah menggambar
Spiderman berukuran orang dewasa di dinding kamar saya. Ayah saya menggambarnya
selama semalam hanya dengan menggunakan pensil warna dan kelihaian tangannya.
Tapi
sayang, tidak lama setelah itu, kedua orang tua saya berpisah. Saya merasa
gagal menjadi Spiderman. Karena saya tidak bisa mendamaikan dan menyatukan
kedua orang tua saya. Lalu gambar Spiderman yang ada di dinding kamar saya juga
dihapus seiring dengan kepergian ayah saya dari rumah. Saya sedih, dan saya
juga mulai melupakan semua tentang Spiderman.
Namun
hati memang tidak bisa dibohongi, kecintaan saya terhadap Spiderman memang
tidak bisa ditahan lagi. Apalagi waktu itu juga mulai beredar film Spiderman 3.
Saya kembali menyukai Spiderman, dan saya tetap ingin menjadi Spiderman.
Kemudian saya meminta kaos Spiderman om saya, sebab saya merasa kaos itu keren
sekali. Dan untungnya om saya memberikan kaos itu kepada saya.
Sampai
saat ini saya masih menyukai Spiderman, dan selamanya akan tetap menyukai
Spiderman. Saya juga tetap ingin mewujudkan cita-cita saya menjadi Spiderman.
Meskipun saya tidak memiliki kemampuan seperti Spiderman, tetapi saya tetap
ingin melindungi orang-orang disekitar saya, khususnya orang-orang yang saya
sayangi. Saya juga ingin sekali mewujudkan kedamaian, ketenangan, dan
ketentraman seperti halnya yang dilakukan oleh Spiderman.
Saya
juga ingin sekali pernikahan saya itu ada tema Spidermannya. Dan nanti kalau
saya sudah memiliki keluarga, saya juga ingin foto bersama menggunakan kostum
Spiderman. Karakter wanita dalam Spiderman yang saya ketahui ada 3, yaitu
Spider Woman, Spidergirl, dan Spider Gwen. Kalau memang saya ditakdirkan dengan
peri kecil, saya merasa peri kecil tidak pantas menjadi salah satu dari ketiga
karakter tersebut.
Menurut
saya, karakter yang cocok untuk peri kecil adalah Cat Woman. Keren juga sih
kalau kucing dan laba-laba bersatu. Yaa mungkin saya Spiderman, peri kecil Cat Woman,
dan anak-anak saya nanti karakter super hero yang lain. Hehehe, itu semua
adalah rencana saya, dan belum tentu semua rencana saya bisa terwujud jika
tanpa izin dari Tuhan.
Akulah
Spiderman, dan saya pasti akan menjaga dan melindungi orang-orang disekitar
saya dan orang-orang yang saya sayangi. Spiderman sangat spesial bagi saya,
karena Spiderman sudah menjadi bagian dalam hidup saya. Spiderman sudah masuk
ke dalam jiwa saya, sulit rasanya untuk melepasnya. Saya juga sedang
mengumpulkan uang untuk membeli kostum Spiderman, dan niatnya sih ingin masuk
komunitas Spiderman. Do’akan yaa sahabat blogger, semoga semuanya bisa lancar
dan tercapai.
Mungkin
hanya ini yang bisa saya sampaikan. Apabila ada kekurangan dan kesalahan
perkataan, saya mengucapkan maaf yang sebanyak-banyaknya. Sebab tak lupa saya
berkata bahwa saya hanyalah manusia biasa yang tidak pernah lepas dari
kesalahan. Terima kasih juga untuk sahabat blogger semua karena telah
menyempatkan waktunya untuk membaca dan mengunjungi blog saya. Sekali lagi,
Terima Kasih. ^_^
Sunday, July 30, 2017
Dalam Do'aku - Sapardi Djoko Damono
Dalam
doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalam
tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena
akan menerima suara-suara
Ketika
matahari mengembang tenang di atas kepala,
dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan
pertanyaan muskil kepada angin
yang
mendesau entah dari mana
Dalam
doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang
hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga
jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang
lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib
ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun
sangat perlahan dari nun disana, bersijingkat
di
jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam
doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang
entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi
rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi
kehidupanku
Aku
mencintaimu,
itu
sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan
keselamatanmu
Sunday, February 26, 2017
Awal Cerita Tahun 2017
Hallo
sahabat blogger, akhirnya kita bisa bertemu lagi nih. Udah berapa lama yaa kita
tidak bertemu? kira-kira hampir 5 bulan kali yaa. Sebenarnya saya gak
sibuk-sibuk banget, hanya saja saya tidak bisa menyempatkan diri untuk mampir
ke blog. Hehehe, maklum soalnya saya sibuk banget bermain games. Saya mau
cerita nih sahabat blogger, tapi cerita tentang apa yaa?. Hmm, gimana kalau
saya cerita tentang kampus saya aja nih. Sekalian saya juga ingin
memperkenalkan kampus saya. Okehlah tidak usah basa-basi lagi yaa, saya akan
menceritakan awal mula saya masuk ke kampus saya ini.
Jadi
ceritanya setelah saya lulus SMK, seharusnya saya segera mencari tempat kuliah.
Tapi waktu itu saya masih ingin berlibur, dan mengulur-ulur waktu. Sebab emang
dari awal saya sudah mempunyai tujuan kemana saya akan kuliah, yaitu di STIE
Pelita Bangsa yang ada di depan Kota Legenda. Apalagi waktu itu juga saya dapat
undangan dari kampus itu, dan di undangan itu tertulis bahwa pendaftaran
terakhir tanggal 31 Agustus 2016. Udah dah, saya malah semakin menganggap
gampang semuanya. Ketika udah ada beberapa dari teman saya yang udah mulai
masuk kuliah, termasuk saat itu peri kecil juga udah mulai kuliah, baru deh
saya melangkahkan kaki saya untuk mendaftar di kampus itu. Ketika sampai sana,
tiba-tiba tulisan STT/STIE Pelita Bangsa berubah menjadi Bina Pelita Bangsa,
dan saya juga melihat spanduk yang bertuliskan ‘Selamat Datang Siswa-Siswi
tahun ajaran 2016/2017’, sontak saya langsung terkejut sekali.
Saya pun bertanya ke Satpamnya, dan satpamnya pun mengatakan bahwa kampus Pelita Bangsa itu adanya di Cikarang, kalau yang disini sekolahnya. Seketika saya menjadi lemas, dan bingung harus bagaimana. Dari awal saya juga tau kalau kampus Pelita Bangsa itu memang ada di Cikarang, namun saya sempat mengira kalau Pelita Bangsa membuka cabang di daerah Tambun itu. Saya pun berkata kepada nenek saya, namun nenek saya melarang saya. Sebab jaraknya memang jauh, nenek saya pun juga mengkhawatirkan tentang saya. Saya semakin bingung, sebab waktu-waktu untuk masuk kuliah udah semakin dekat. Saya mencari di google kampus yang ada disekitar Bekasi. Kemudian saya mengajak tetangga saya untuk mengantar saya mencari tempat kuliah. Namun hasilnya nihil, sebab pendaftaran udah pada ditutup, yang ada waktu itu baju saya malah lepek gara-gara kehujanan. Sebenarnya gak semuanya kampus saya datangi, sebab saya juga gak tau pasti alamat dan jalannya. Tapi waktu itu kalau gak salah ada 4 kampus dah, gak termasuk Unisma, Ubhara, dan Bina Insani. Soalnya waktu itu saya belum tau lokasi Ubhara dan Bina Insani. Sedangkan kalau di Unisma, teman saya udah mulai mengikuti ospek. Jadi saya berpikir mungkin memang sudah ditutup pendaftarannya, makanya tidak saya datangi.
Saya menyesal banget karena sudah menganggap mudah semuanya. Lalu saya membuka website dari Pelita Bangsa, dan disitu tertulis bahwa ada kampus B Pelita Bangsa yang terletak di Bekasi. Saya pun mencoba mencarinya, namun saya tidak berhasil menemukannya. Mungkin sebenarnya saya sudah melewatinya kali yaa, tapi saya tidak menyadarinya. Kemudian saya cek lagi, ternyata masih ada kampus yang buka pendaftaran, yaitu BSI dan Nusa Mandiri. Saya pun mencoba mendaftar online di Nusa Mandiri, meskipun tidak ada jurusan yang sesuai dengan keinginan saya. Pendaftaran saya pun berhasil, namun saya belum membayarnya. Ketika saya ingin membayar, tiba-tiba uang masuk SMA adik saya kurang. Mau tidak mau, uang yang seharusnya saya pakai untuk kuliah, harus saya serahkan untuk biaya adik saya masuk SMA. Lalu umi saya menelepon saya, bahwa dia baru bisa transfer tanggal 10 September, sedangkan pendaftaran ditutup tanggal 9 September. Saya udah berkata untuk transfernya lebih cepat lagi, tapi umi saya mengatakan bahwa ada uangnya tanggal segitu. Pupus sudah harapan saya, saya pun bingung harus bagaimana lagi, sebab saya ingin cepat-cepat kuliah.
Ketika saya ingin mencari suatu dokumen di rak buku umi saya, tiba-tiba saya menemukan sebuah brosur lama dari Pelita Bangsa. Disitu tertulis bahwa alamatnya berada di Metland Tambun. Saya pun berpikir untuk mencari alamat tersebut. Waktu itu saya juga jalan-jalan dengan teman saya, tiba-tiba saya melihat brosur kampus Pelita Nusantara yang sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru juga. Saya lihat alamatnya, dan ternyata alamatnya sama dengan alamat dari Pelita Bangsa di brosur yang saya temukan di rak buku umi saya. Saya semakin bingung, sebenarnya yang ada di alamat itu kampus apa?. Setelah umi saya transfer, saya langsung menghubungi teman saya untuk mengantar saya mendaftar disitu. Tujuannya sih agar teman saya bisa berbicara semuanya, karena waktu itu saya masih sulit atau masih malu-malu untuk berkomunikasi. Setelah saya sampai sana, ternyata kampusnya berbentuk ruko. Jadi 3 ruko di jadikan menjadi satu, dan tertera jelas nama Pelita Nusantara.
Saya dan teman saya pun masuk ke dalam kampus itu, dan bertemu dengan administrasi kampus. Saya dijelaskan bahwa kuliah dikampus itu hanya sekitar 3,5 tahun, dan masuknya pun sore. Sebab kebanyakan dari mahasiswanya adalah seorang karyawan. Jadi menurut saya waktu itu sih kampus itu adalah kampus karyawan, namun berbentuk regular. Saya mengisi pendaftaran, dan membayar 1/3 nya dulu. Kemudian saya pulang untuk memenuhi syarat-syaratnya. Teman saya juga masih setia menemani saya. Saya kembali lagi ke kampus itu, dan memberikan semua persyaratannya. Lalu saya dijelaskan lagi bahwa nanti akan ada pemberitahuan lagi masuk kuliahnya kapan. Saya melihat ke jam yang ada di kampus, dan disitu tertera tulisan Kampus Pelita Bangsa, lalu saya juga melihat ke mading, dan disitu juga ada jadwal dari Pelita Bangsa. Akhirnya terpikir di benak saya bahwa mungkin kampus ini adalah cabang dari Pelita Bangsa atau memang masih dibawah naungan Pelita Bangsa.
Sesampainya dirumah, tiba-tiba saya berpikir tentang kampus ruko. Saya pun langsung mencari di google tentang kampus ruko. Ternyata banyak yang beranggapan negatif, namun tidak sedikit juga yang beranggapan positif. Dan saya dibuat semakin khawatir ketika ada bacaan bahwa banyak kampus di Bekasi yang di non aktifkan. Saya sempat berpikir, apakah kampus saya itu termasuk kampus yang tidak resmi. Tapi ternyata, kampus yang di non aktifkan itu justru malah kampus yang memiliki gedung sendiri. Hanya saja banyak pelanggaran yang pihak kampus itu lakukan, makanya kampus itu di non aktifkan. Namun ketika saya membaca lagi sekarang ini, kampus yang di non aktifkan itu sudah mulai aktif kembali kok. Namun perasaan saya masih belum tenang, sebab status kampus ruko itu masih mengganjal dihati saya. Sebulan pun telah berlalu, saya masih belum dihubungi juga oleh pihak kampus. Saya pun menjadi berpikir negatif, apakah saya sudah dibohongi?. Saya pun menghubungi teman saya lagi untuk mengantar saya ke kampus dan meminta penjelasan besok. Namun malamnya, tiba-tiba saya dihubungi oleh pihak kampus dan disuruh datang ke kampus untuk mengisi KRS.
Perasaan saya pun akhirnya mulai lega dan tenang. Namun saya juga masih menyimpan kecurigaan tentang kampus ruko, apalagi kampus ruko memang sudah dipandang buruk oleh teman-teman SMP saya, atau bahkan masyarakat sekitar. Sebenarnya saya sendiri sih tidak terlalu mempermasalahkannya, sebab menurut saya dimana pun kita belajar itu sama aja. Sekecil apapun ilmu yang kita dapatkan, pasti bakalan jauh lebih berguna jika kita mampu mengembangkan dan memanfaatkannya. Itu semua tergantung kita bagaimana menerima ilmu tersebut, dan untuk apa ilmu yang kita dapatkan itu. Percuma aja jika kita disekolahkan di tempat yang besar dan mahal, sedangkan kita sendiri hanya malas-malasan, serta tidak mau memanfaatkan ilmu itu. Sudah dulu yaa nasihatnya, kita kembali ke topik awal lagi. Setelah mengisi KRS, seminggu kemudian akhirnya saya mulai masuk kuliah. Dan ternyata mahasiswanya cukup banyak, meskipun kampusnya hanyalah ruko. Bukan hanya itu aja, lulusannya pun juga cukup banyak kok, bahkan juga ada beberapa yang sudah menjadi bos.
Kemudian salah satu dosen menjelaskan tentang kampus. Dosen yang ada di Pelita Bangsa dan Pelita Nusantara itu sama. Dosennya juga mengatakan bahwa gak usah khawatir tentang kampus ini. Sebab gedung yang ditempati oleh kampus ini sudah resmi dibeli. Mahasiswa dari Pelita Bangsa juga dulu sempat belajar disini, sebelum akhirnya di pindahkan ke gedung asli Pelita Bangsa di Cikarang. Namun masih banyak juga loh mahasiswa dari Pelita Bangsa yang masih tetap melanjutkan belajar di kampus ini. Ohh yaa, ternyata mahasiswa banyak karena memang caturwulan 1 dan 2 itu masih digabung. Sebab materi yang dipelajarinya masih dasar, sedangkan penjurusannya mulai caturwulan 3. Selain itu, kebanyakan mahasiswa yang ada di kampus itu adalah seorang perantau. Namun mereka semua tidak pernah mempermasalahkan tentang kampus ruko, mereka nyaman-nyaman aja kok. Bahkan ada juga teman saya yang berasal dari SMK yang mahal dan terkenal. Bukan hanya itu aja, yang seangkatan sama saya juga gak semuanya lulusan tahun 2016, ada juga loh yang udah memiliki keluarga dan anak. Ohh yaa saya hampir lupa, jadi saya mengambil jurusan Manajemen di kampus itu.
Hari pertama saya masuk kampus, saya masih agak canggung. Karena memang orang-orangnya gak ada yang saya kenal. Namun lama kelamaan, saya sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan kampus, dan perlahan-lahan saya juga memiliki banyak teman. Meskipun sampai saat ini masih ada yang mengganjal dihati saya tentang keresmian dari kampus, tapi saya tidak menyesal masuk kampus itu. Sebenernya bukan hanya ini aja sih yang buat hati saya mengganjal, namun jumlah jam dalam setiap mata kuliah. Kalau yang umumnya itukan 2 jam setiap 1 mata kuliah, tapi kalau di kampus saya cuma 1,5 jam setiap mata kuliah. Itulah yang membuat saya heran, yang kuliahnya S1 4 tahun atau D3 3 tahun aja belajarnya 2 jam setiap mata kuliah, lah saya yang katanya kuliah S1 cuma 3,5 tahun masa cuma 1,5 jam setiap mata kuliah. Kecuali kalau emang kuliahnya 4 tahun, baru saya percaya dan tidak heran. Sistem di kampus saya kan memakai caturwulan, dan bukan semester. Jadi kalau dihitung-hitung 1 caturwulan aja 4 bulan, nah total kuliahnya itu sampai caturwulan 12. Terus kalau dihitung matematika, 4 bulan dikali 12 bulan sama dengan 48 bulan, dan 48 bulan juga sama dengan 4 tahun.
Yaa kan, berarti emang waktunya sampai 4 tahun. Tapi saya juga gak tau pasti sih sistem belajar di kampus itu seperti apa. Dah lah saya tidak usah menyimpan banyak curiga, yang jelas saya tidak pernah menyesal sama sekali masuk kampus itu. Karena saya sudah nyaman banget berada di kampus itu. Bagi saya, kenyamanan itu sangatlah penting. Saya juga ingin mencoba bertanya kepada pihak kampus mengenai keresmiannya. Tapi saya masih kurang berani, takutnya saya menyinggung mereka. Namun saya juga berharap semoga keresmian dari kampus itu bisa dipertanggung jawabkan, biar tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal dihati saya. Dan yang pasti, biar uang yang selama ini dikeluarkan oleh saya dan teman-teman yang lain tidaklah sia-sia. Tapi saya selalu memegang kepercayaan, bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini.
Kini saya sudah mulai memasuki caturwulan 2, dan saya pun makin bahagia berada di kampus ini. Bukan hanya karena saya memiliki teman-teman yang baik, tapi yang paling terpenting dan utama adalah saya mendapatkan kenyamanan di kampus ini, dan saya pun semakin cinta kepada kampus saya. Meskipun saya gak berhasil kuliah di Pelita Bangsa, tapi seenggaknya saya bisa kuliah dicabang dari kampus Pelita Bangsa, yaitu Pelita Nusantara. Meskipun saya hanya kuliah di ruko, namun saya ingin membuktikan bahwa saya bisa, pasti bisa, dan harus bisa menjadi lebih baik dari teman-teman saya yang kuliah ditempat yang besar dan mahal. Tapi yang pasti, saat ini saya sedang menunggu kartu mahasiswa saya selesai dibuat. Agar saya bisa mengecek status kemahasiswaan saya di internet. Saya udah menanyakannya, katanya sih nanti ketika caturwulan 3 baru jadi. Kalau status mahasiswa saya jelas, maka tidak akan ada lagi yang mengganjal dihati saya ini.
Saya pun bertanya ke Satpamnya, dan satpamnya pun mengatakan bahwa kampus Pelita Bangsa itu adanya di Cikarang, kalau yang disini sekolahnya. Seketika saya menjadi lemas, dan bingung harus bagaimana. Dari awal saya juga tau kalau kampus Pelita Bangsa itu memang ada di Cikarang, namun saya sempat mengira kalau Pelita Bangsa membuka cabang di daerah Tambun itu. Saya pun berkata kepada nenek saya, namun nenek saya melarang saya. Sebab jaraknya memang jauh, nenek saya pun juga mengkhawatirkan tentang saya. Saya semakin bingung, sebab waktu-waktu untuk masuk kuliah udah semakin dekat. Saya mencari di google kampus yang ada disekitar Bekasi. Kemudian saya mengajak tetangga saya untuk mengantar saya mencari tempat kuliah. Namun hasilnya nihil, sebab pendaftaran udah pada ditutup, yang ada waktu itu baju saya malah lepek gara-gara kehujanan. Sebenarnya gak semuanya kampus saya datangi, sebab saya juga gak tau pasti alamat dan jalannya. Tapi waktu itu kalau gak salah ada 4 kampus dah, gak termasuk Unisma, Ubhara, dan Bina Insani. Soalnya waktu itu saya belum tau lokasi Ubhara dan Bina Insani. Sedangkan kalau di Unisma, teman saya udah mulai mengikuti ospek. Jadi saya berpikir mungkin memang sudah ditutup pendaftarannya, makanya tidak saya datangi.
Saya menyesal banget karena sudah menganggap mudah semuanya. Lalu saya membuka website dari Pelita Bangsa, dan disitu tertulis bahwa ada kampus B Pelita Bangsa yang terletak di Bekasi. Saya pun mencoba mencarinya, namun saya tidak berhasil menemukannya. Mungkin sebenarnya saya sudah melewatinya kali yaa, tapi saya tidak menyadarinya. Kemudian saya cek lagi, ternyata masih ada kampus yang buka pendaftaran, yaitu BSI dan Nusa Mandiri. Saya pun mencoba mendaftar online di Nusa Mandiri, meskipun tidak ada jurusan yang sesuai dengan keinginan saya. Pendaftaran saya pun berhasil, namun saya belum membayarnya. Ketika saya ingin membayar, tiba-tiba uang masuk SMA adik saya kurang. Mau tidak mau, uang yang seharusnya saya pakai untuk kuliah, harus saya serahkan untuk biaya adik saya masuk SMA. Lalu umi saya menelepon saya, bahwa dia baru bisa transfer tanggal 10 September, sedangkan pendaftaran ditutup tanggal 9 September. Saya udah berkata untuk transfernya lebih cepat lagi, tapi umi saya mengatakan bahwa ada uangnya tanggal segitu. Pupus sudah harapan saya, saya pun bingung harus bagaimana lagi, sebab saya ingin cepat-cepat kuliah.
Ketika saya ingin mencari suatu dokumen di rak buku umi saya, tiba-tiba saya menemukan sebuah brosur lama dari Pelita Bangsa. Disitu tertulis bahwa alamatnya berada di Metland Tambun. Saya pun berpikir untuk mencari alamat tersebut. Waktu itu saya juga jalan-jalan dengan teman saya, tiba-tiba saya melihat brosur kampus Pelita Nusantara yang sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru juga. Saya lihat alamatnya, dan ternyata alamatnya sama dengan alamat dari Pelita Bangsa di brosur yang saya temukan di rak buku umi saya. Saya semakin bingung, sebenarnya yang ada di alamat itu kampus apa?. Setelah umi saya transfer, saya langsung menghubungi teman saya untuk mengantar saya mendaftar disitu. Tujuannya sih agar teman saya bisa berbicara semuanya, karena waktu itu saya masih sulit atau masih malu-malu untuk berkomunikasi. Setelah saya sampai sana, ternyata kampusnya berbentuk ruko. Jadi 3 ruko di jadikan menjadi satu, dan tertera jelas nama Pelita Nusantara.
Saya dan teman saya pun masuk ke dalam kampus itu, dan bertemu dengan administrasi kampus. Saya dijelaskan bahwa kuliah dikampus itu hanya sekitar 3,5 tahun, dan masuknya pun sore. Sebab kebanyakan dari mahasiswanya adalah seorang karyawan. Jadi menurut saya waktu itu sih kampus itu adalah kampus karyawan, namun berbentuk regular. Saya mengisi pendaftaran, dan membayar 1/3 nya dulu. Kemudian saya pulang untuk memenuhi syarat-syaratnya. Teman saya juga masih setia menemani saya. Saya kembali lagi ke kampus itu, dan memberikan semua persyaratannya. Lalu saya dijelaskan lagi bahwa nanti akan ada pemberitahuan lagi masuk kuliahnya kapan. Saya melihat ke jam yang ada di kampus, dan disitu tertera tulisan Kampus Pelita Bangsa, lalu saya juga melihat ke mading, dan disitu juga ada jadwal dari Pelita Bangsa. Akhirnya terpikir di benak saya bahwa mungkin kampus ini adalah cabang dari Pelita Bangsa atau memang masih dibawah naungan Pelita Bangsa.
Sesampainya dirumah, tiba-tiba saya berpikir tentang kampus ruko. Saya pun langsung mencari di google tentang kampus ruko. Ternyata banyak yang beranggapan negatif, namun tidak sedikit juga yang beranggapan positif. Dan saya dibuat semakin khawatir ketika ada bacaan bahwa banyak kampus di Bekasi yang di non aktifkan. Saya sempat berpikir, apakah kampus saya itu termasuk kampus yang tidak resmi. Tapi ternyata, kampus yang di non aktifkan itu justru malah kampus yang memiliki gedung sendiri. Hanya saja banyak pelanggaran yang pihak kampus itu lakukan, makanya kampus itu di non aktifkan. Namun ketika saya membaca lagi sekarang ini, kampus yang di non aktifkan itu sudah mulai aktif kembali kok. Namun perasaan saya masih belum tenang, sebab status kampus ruko itu masih mengganjal dihati saya. Sebulan pun telah berlalu, saya masih belum dihubungi juga oleh pihak kampus. Saya pun menjadi berpikir negatif, apakah saya sudah dibohongi?. Saya pun menghubungi teman saya lagi untuk mengantar saya ke kampus dan meminta penjelasan besok. Namun malamnya, tiba-tiba saya dihubungi oleh pihak kampus dan disuruh datang ke kampus untuk mengisi KRS.
Perasaan saya pun akhirnya mulai lega dan tenang. Namun saya juga masih menyimpan kecurigaan tentang kampus ruko, apalagi kampus ruko memang sudah dipandang buruk oleh teman-teman SMP saya, atau bahkan masyarakat sekitar. Sebenarnya saya sendiri sih tidak terlalu mempermasalahkannya, sebab menurut saya dimana pun kita belajar itu sama aja. Sekecil apapun ilmu yang kita dapatkan, pasti bakalan jauh lebih berguna jika kita mampu mengembangkan dan memanfaatkannya. Itu semua tergantung kita bagaimana menerima ilmu tersebut, dan untuk apa ilmu yang kita dapatkan itu. Percuma aja jika kita disekolahkan di tempat yang besar dan mahal, sedangkan kita sendiri hanya malas-malasan, serta tidak mau memanfaatkan ilmu itu. Sudah dulu yaa nasihatnya, kita kembali ke topik awal lagi. Setelah mengisi KRS, seminggu kemudian akhirnya saya mulai masuk kuliah. Dan ternyata mahasiswanya cukup banyak, meskipun kampusnya hanyalah ruko. Bukan hanya itu aja, lulusannya pun juga cukup banyak kok, bahkan juga ada beberapa yang sudah menjadi bos.
Kemudian salah satu dosen menjelaskan tentang kampus. Dosen yang ada di Pelita Bangsa dan Pelita Nusantara itu sama. Dosennya juga mengatakan bahwa gak usah khawatir tentang kampus ini. Sebab gedung yang ditempati oleh kampus ini sudah resmi dibeli. Mahasiswa dari Pelita Bangsa juga dulu sempat belajar disini, sebelum akhirnya di pindahkan ke gedung asli Pelita Bangsa di Cikarang. Namun masih banyak juga loh mahasiswa dari Pelita Bangsa yang masih tetap melanjutkan belajar di kampus ini. Ohh yaa, ternyata mahasiswa banyak karena memang caturwulan 1 dan 2 itu masih digabung. Sebab materi yang dipelajarinya masih dasar, sedangkan penjurusannya mulai caturwulan 3. Selain itu, kebanyakan mahasiswa yang ada di kampus itu adalah seorang perantau. Namun mereka semua tidak pernah mempermasalahkan tentang kampus ruko, mereka nyaman-nyaman aja kok. Bahkan ada juga teman saya yang berasal dari SMK yang mahal dan terkenal. Bukan hanya itu aja, yang seangkatan sama saya juga gak semuanya lulusan tahun 2016, ada juga loh yang udah memiliki keluarga dan anak. Ohh yaa saya hampir lupa, jadi saya mengambil jurusan Manajemen di kampus itu.
Hari pertama saya masuk kampus, saya masih agak canggung. Karena memang orang-orangnya gak ada yang saya kenal. Namun lama kelamaan, saya sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan kampus, dan perlahan-lahan saya juga memiliki banyak teman. Meskipun sampai saat ini masih ada yang mengganjal dihati saya tentang keresmian dari kampus, tapi saya tidak menyesal masuk kampus itu. Sebenernya bukan hanya ini aja sih yang buat hati saya mengganjal, namun jumlah jam dalam setiap mata kuliah. Kalau yang umumnya itukan 2 jam setiap 1 mata kuliah, tapi kalau di kampus saya cuma 1,5 jam setiap mata kuliah. Itulah yang membuat saya heran, yang kuliahnya S1 4 tahun atau D3 3 tahun aja belajarnya 2 jam setiap mata kuliah, lah saya yang katanya kuliah S1 cuma 3,5 tahun masa cuma 1,5 jam setiap mata kuliah. Kecuali kalau emang kuliahnya 4 tahun, baru saya percaya dan tidak heran. Sistem di kampus saya kan memakai caturwulan, dan bukan semester. Jadi kalau dihitung-hitung 1 caturwulan aja 4 bulan, nah total kuliahnya itu sampai caturwulan 12. Terus kalau dihitung matematika, 4 bulan dikali 12 bulan sama dengan 48 bulan, dan 48 bulan juga sama dengan 4 tahun.
Yaa kan, berarti emang waktunya sampai 4 tahun. Tapi saya juga gak tau pasti sih sistem belajar di kampus itu seperti apa. Dah lah saya tidak usah menyimpan banyak curiga, yang jelas saya tidak pernah menyesal sama sekali masuk kampus itu. Karena saya sudah nyaman banget berada di kampus itu. Bagi saya, kenyamanan itu sangatlah penting. Saya juga ingin mencoba bertanya kepada pihak kampus mengenai keresmiannya. Tapi saya masih kurang berani, takutnya saya menyinggung mereka. Namun saya juga berharap semoga keresmian dari kampus itu bisa dipertanggung jawabkan, biar tidak ada lagi sesuatu yang mengganjal dihati saya. Dan yang pasti, biar uang yang selama ini dikeluarkan oleh saya dan teman-teman yang lain tidaklah sia-sia. Tapi saya selalu memegang kepercayaan, bahwa tidak ada yang sia-sia di dunia ini.
Kini saya sudah mulai memasuki caturwulan 2, dan saya pun makin bahagia berada di kampus ini. Bukan hanya karena saya memiliki teman-teman yang baik, tapi yang paling terpenting dan utama adalah saya mendapatkan kenyamanan di kampus ini, dan saya pun semakin cinta kepada kampus saya. Meskipun saya gak berhasil kuliah di Pelita Bangsa, tapi seenggaknya saya bisa kuliah dicabang dari kampus Pelita Bangsa, yaitu Pelita Nusantara. Meskipun saya hanya kuliah di ruko, namun saya ingin membuktikan bahwa saya bisa, pasti bisa, dan harus bisa menjadi lebih baik dari teman-teman saya yang kuliah ditempat yang besar dan mahal. Tapi yang pasti, saat ini saya sedang menunggu kartu mahasiswa saya selesai dibuat. Agar saya bisa mengecek status kemahasiswaan saya di internet. Saya udah menanyakannya, katanya sih nanti ketika caturwulan 3 baru jadi. Kalau status mahasiswa saya jelas, maka tidak akan ada lagi yang mengganjal dihati saya ini.
Mungkin
hanya ini yang bisa saya sampaikan. Apabila ada kata yang kurang dipahami, atau
ada kata-kata yang salah, maka saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.
Sebab saya juga merasa bahwa kata-kata yang saya tulis ini memang sangatlah
sulit sekali untuk dipahami. Lagian saya juga memang hanyalah manusia biasa
yang tidak pernah lepas dari kesalahan. Saya juga mohon maaf karena menyertakan
nama-nama kampus lain di postingan saya. Jika memang ada pihak yang kurang
berkenan, silakan komentar aja dibawah ini. Serta saya juga mohon maaf banget
yaa, karena judul postingannya agak jauh dari topik. Soalnya saya memang
bingung banget, ingin diberi judul apa postingan saya kali ini. Tapi kalau emang ada yang ingin mengusulkan sebuah judul untuk postingan ini, silakan komentar aja yaa. Jika memang cocok, mungkin judulnya akan saya ganti yang sesuai. Terakhir saya juga mohon doanya yaa sahabat blogger, mungkin beberapa hari lagi saya akan memiliki seorang adik lagi, sebab umi saya akan melahirkan. Doakan yaa agar proses persalinannya bisa berjalan lancar, serta umi dan adik saya bisa selamat dan tetap diberikan kesehatan. Tidak lupa juga
saya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada sahabat blogger,
karena sudah mau menyempatkan diri dan waktunya untuk membaca dan mengunjungi
blog saya. Sekali lagi, Terima Kasih. ^_^
Saturday, October 1, 2016
Kita Kan Slalu Bersama : Melangkah Kembali
Hallo
sahabat blogger, kita bertemu lagi nih. Kali ini saya akan posting sebuah
cerita. Cerita ini adalah bagian dari cerita Kita Kan Slalu Bersama. Awalnya
cerita ini memang saya ambil dari mimpi saya, tapi saya berniat untuk menulis
ceritanya menjadi lebih panjang lagi. Meskipun tidak sama dengan mimpi saya,
dan karena hanya karangan saya saja. Tapi cerita ini termasuk kedalam bagian dari cerita Kita Kan Slalu Bersama yang pertama. Kalau masih belum ada yang membaca cerita
pertama, pasti akan sulit juga untuk memahami cerita ini. Namun cerita ini saya
tulis agar mudah dipahami, jadinya meskipun tidak membaca cerita yang pertama,
tapi masih bisa sedikit dipahami. Okehlah gak usah basa-basi lagi, berikut
adalah ceritanya.
KITA KAN SLALU BERSAMA
“MELANGKAH KEMBALI”
“MELANGKAH KEMBALI”
Setelah menyetujui usulan dari Intan tentang
membuat Lady White menjadi beberapa generasi, Tasya masih bingung untuk
memulainya darimana. Ketika bel istirahat berbunyi, Tasya mengajak Ayu dan
Intan untuk berkumpul di ruangan klub. Sesampainya disana, Tasya langsung
bertanya tentang cara untuk mendapatkan anggota baru dari Lady White. Sebab
Lady White masih bukanlah idol grup resmi, melainkan masih hanya cover idol
saja. Perkataan dari Tasya membuat Ayu dan Intan juga merasa bingung.
Ketika mereka semua sedang memikirkan caranya,
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan klub idol. Ayu langsung membukakan
pintunya, dan ternyata ada seorang anak perempuan yang datang. Ayu bingung,
sebab dia tidak mengenal perempuan itu. Tasya menghadap ke pintu, dan dia sangat
terkejut sekali ketika melihat perempuan itu. Ternyata Tasya sangat mengenal
perempuan itu. Sebab dia pernah menjadi saingannya Tasya dalam lomba tari
modern ketika SMP di Bandung. Tasya benar-benar tidak mempercayai itu, karena
perempuan itu sekarang adalah adik kelasnya dan juga berasal dari Bandung dan
kini pindah ke Jakarta.
Intan bingung melihat Tasya yang hanya terdiam
melihat perempuan itu. Kemudian perempuan itu meminta izin untuk masuk dan
ingin berbicara dengan anggota Lady White. Ayu mempersilakan perempuan itu
untuk masuk. Lalu Intan menanyakan tujuannya dia datang kesini. Sebelumnya,
perempuan itu mengenalkan dirinya terlebih dahulu. Dia adalah Devi Kurnia,
murid dari kelas 10-3.
“Jadi
benar, kau adalah Devi, murid dari Bandung?.” Tanya Tasya
“Hmm,
lu kenal sama dia Tas?.” Intan bingung
“Iya
aku Devi. Ternyata kakak masih mengenali aku.” Jawab Devi
“Tentu
kakak ingat, kamu yang menjadi juara 2 tari modern antar SMP kan.” Kata Tasya
“Hehehe
iya, kan juara pertamanya kakak?.” Jawab Devi
“Terus
apa tujuan kamu datang kesini?.” Tanya Tasya
“Alasan
aku datang kesini, karena aku mengagumi kakak. Aku belajar tari modern, itu
karena pertama kali aku melihat kakak sangat luar biasa sekali. Kakak adalah
inspirasi buat aku. Selama setahun ini, aku selalu mengikuti perkembangan dari
Lady White. Dan aku juga sangat ngefans sekali dengan Lady White. Maka dari
itu, aku berjuang untuk masuk di sekolah ini, agar aku bisa masuk dan menjadi
anggota Lady White. Apalagi bisa satu tim sama kakak, sungguh mimpi aku menjadi
kenyataan. Tapi sayangnya, Lady White justru vakum ketika aku baru ingin
masuk.” Jawab Devi
“Apa?
Padahal selama ini aku selalu menganggap kamu sebagai saingan terberat aku.
Maaf yaa, jika aku salah sangka kepada kamu. Tapi ucapan kamu terlalu
berlebihan juga sih.” Kata Tasya
“Hehehe,
ohh yaa sebenarnya bukan karena hal ini aku datang ke ruang klub idol. Tujuan
aku kesini karena aku ingin membuat Lady White menjadi bangkit kembali. Apalagi
festival idol sekolah tinggal beberapa bulan lagi.” Jawab Devi
“Festival
idol sekolah? Ohh iya Tas, gua lupa tentang hal itu.” Sahut Intan
“Iya
sih, sebenarnya kami juga sedang membicarakan itu. Tapi kami juga bingung,
bagaimana cara kami untuk memulainya.” Kata Tasya
“Kakak
tenang aja, aku tau kok caranya. Bagaimana jika kita memberikan sebuah brosur
tentang perekrutan anggota baru untuk Lady White generasi kedua. Kita
membagikannya ketika istirahat besok. Sekalian juga besok kita menaruh formulir
pendaftaran tentang anggota baru di dekat mading sekolah. Bukan hanya itu aja,
bagaimana kalau konsep dari Lady White diubah dari cover idol menjadi idol
sekolah. Apa kakak mengerti tentang maksud aku? Tapi sebelumnya aku minta maaf
yaa, karena sudah mengatakan tentang ini. Padahal aku kan bukan anggota dari
Lady White.” Jawab Devi
“Apa,
kita mengubah konsepnya juga? Berarti nanti kita harus punya lagu sendiri
dong.” Kata Ayu
“Ucapan
dari Devi ada benarnya juga. Kenapa daritadi kita tidak memikirkan tentang hal
itu?.” Tasya menyetujui perkataan Devi
“Tapi
Tas, lu yakin tentang hal ini?.” Intan masih tidak yakin
“Kok
kalian malah menjadi tidak yakin sih. Padahalkan dari kemarin kalian yang
selalu mempertanyakan tentang kelanjutan dari Lady White. Selama kita masih
bersama, aku yakin kita pasti bisa.” Jawab Tasya
“Ohh
yaa Devi, apakah kamu mau membantu kami?.” Sambung Tasya
“Tentu
aku sangat mau sekali kak.” Jawab Devi
Kemudian mereka janjian untuk saling menunggu usai
pulang sekolah. Sebab mereka akan berdiskusi untuk membuat brosur serta
formulir pendaftarannya. Setelah pulang sekolah, mereka langsung berangkat
menuju rumahnya Tasya. Tasya mengajak mereka untuk masuk ke dalam kamarnya.
Disana, Devi memberikan sebuah contoh brosur yang menarik. Ternyata contohnya
Devi disetujui oleh anggota Lady White. Kemudian mereka membuat sebuah formulir
pendaftaran. Intan bingung, kira-kira mereka akan mencetak berapa formulir.
Tasya mengusulkan untuk mencetak 10 formulir saja. Tapi Devi justru mengusulkan
untuk mencetak 25 formulir. Sebab Devi yakin akan banyak sekali siswi yang
ingin mendaftar menjadi anggota Lady White generasi kedua.
Ayu merasa sangat banyak sekali, sebab dia juga
gak yakin akan banyak siswi yang antusias tentang ini. Devi menambahkan lagi,
bahwa gak semua siswi yang mengisi formulir itu akan menjadi anggota Lady
White. Mereka harus diseleksi terlebih dahulu, dan mungkin hanya beberapa orang
saja yang akan menjadi anggota Lady White. Kali ini perkataan dari Devi dapat
diterima oleh Tasya. Dan Tasya juga menambahkan lagi bahwa hanya akan ada 5
orang aja yang bisa terpilih menjadi anggota Lady White generasi kedua.
Setelah keputusan sudah mereka dapatkan, kini
mereka pergi bersama-sama ke tempat percetakan. Merekapun menunggu
percetakannya selesai. Beberapa menit kemudian, akhirnya brosur dan formulir
pendaftaran Lady White sudah ada ditangan mereka. Mereka sangat berharap sekali
bahwa ini semua akan berjalan dengan lancar. Kemudian Tasya memberikan beberapa
brosur kepada Intan dan Ayu, bahkan termasuk Devi. Sebab mereka harus siap
membagikannya ketika istirahat besok. Anggota Lady White juga mengucapkan
terima kasih kepada Devi. Karena Devi sudah mau membantunya seharian ini.
Setelah itu mereka pulang ke rumahnya
masing-masing. Sesampainya dirumah, Devi merasa senang sekali. Lalu Devi
menelepon seseorang. Devi mengatakan “Tenang kak, semua akan baik-baik saja.
Aku janji, aku akan mengembalikan semuanya seperti semula”. Lalu Devi menutup
teleponnya, dan dia sudah tidak sabar sekali menunggu hari esok. Besoknya
ketika istirahat, mereka langsung bersiap-siap untuk melaksanakan tugasnya.
Tasya membagikan brosur ditaman sekolah, Devi membagikan brosur di dekat kantin
sekolah, Intan mambagikan brosur dilorong sekolah, sedangkan Ayu membagikan
brosur dihalaman sekolah.
Satu persatu brosur yang mereka bagikan telah
habis. Lalu mereka berkumpul kembali diruang klub idol. Mereka bersyukur
sekali, karena akhirnya banyak yang menyambut rencana ini dengan positif. Tasya
mengajak Intan, Ayu, dan Devi untuk makan dikantin. Merekapun sangat menyetujui
usulan dari Tasya, sebab mereka juga cukup lelah usai membagikan brosurnya.
Sebelum sampai kantin, mereka melewati mading sekolah. Ternyata, formulir
pendaftaran Lady White sudah habis juga. Intan benar-benar tidak menyangka
sekali dengan hal ini. Tasyapun sangat bersyukur sekali karena formulirnya
sudah habis. Mereka kembali berjalan ke kantin untuk merayakan kebahagiaannya.
Ketika mereka sedang makan, ada beberapa siswi
yang datang dan memberikan formulir yang sudah diisi. Tasya semakin tidak
mempercayai itu, ternyata siswi disekolahnya sangat antusias untuk menjadi
anggota Lady White. Tasya, Ayu dan Intan juga mengucapkan terima kasih kepada
mereka karena mau bergabung menjadi anggota Lady White. 3 hari kemudian,
akhirnya tiba juga hari penyeleksian untuk anggota baru dari Lady White. Mereka
diseleksi diruang klub idol. Tasya, kepala sekolah, dan salah satu perwakilan
OSIS yang menilai mereka. Satu persatu siswi menunjukkan bakat mereka dengan
menari dan bernyanyi.
Hingga akhirnya, tibalah pengumuman tentang siswi
yang dipilih menjadi anggota Lady White generasi kedua. Dan terpilihlah 5 siswi
yang menjadi anggota Lady White generasi kedua. Mereka adalah Dena, Shinta,
Alsa, Dinda, dan Adel. Tasya langsung menghampiri mereka, dan mengucapkan
selamat bergabung kepada mereka. Tasya juga memohon bantuan dan kerja samanya
kepada mereka. Intan dan Ayu juga datang, kemudian mereka berdua juga
mengucapkan selamat bergabung kepada anggota Lady White yang sudah terpilih.
Tapi ada yang mengganjal dengan dipilihnya mereka semua. Sebab Tasya tidak
melihat kehadiran Devi. Apalagi Devi sudah membantunya selama ini.
Lalu Tasya keluar ruangan, dan segera mencari
keberadaannya Devi. Tasya sudah mencari diseluruh ruangan, tapi dia tidak
menemui Devi. Tasya bingung, kemana perginya Devi?. Hingga akhirnya Tasya
mendengar suara alunan piano. Tasya menghampiri suara itu, dan tibalah dia
didepan ruang klub musik. Tasya masuk, dan dia terkejut sekali ketika melihat
Devi sedang memainkan piano itu. Devi juga terkejut dengan kehadirannya Tasya. Tasya
langsung menanyakan kepada Devi, kemana saja dia? Kenapa dia tidak ikut seleksi
anggota baru Lady White? Dan bukannya Devi ingin sekali menjadi anggota dari
Lady White?.
Devi tersenyum, dan dia juga mengucapkan maaf
kepada Tasya. Sebenarnya Devi ingin sekali menjadi anggota Lady White, hanya
saja dia kehabisan formulir pendaftarannya. Jadinya dia gak sempat untuk
mendaftarnya. Tasya juga lupa tentang hal itu, tapi Tasya berkata bahwa Devi
tetap akan menjadi anggota Lady White meskipun tidak mengikuti seleksi. Devi
layak mendapatkan itu semua, karena dia sudah banyak membantu untuk Lady White.
Devi merasa tidak adil, karena teman-temannya yang lain bersusah payah untuk
menjadi anggota Lady White. Sedangkan dia hanya diam dan tidak berusaha seperti
teman-temannya yang lain.
Tasya meyakini Devi, bahwa dia akan tetap menjadi
anggota baru Lady White. Sebab festival idol sekolah nasional hanya diikuti
oleh idol sekolah yang beranggotakan 9 orang. Sedangkan Lady White baru 8
orang, dan masih ada satu tempat untuk Devi. Intan, Ayu, dan anggota Lady White
yang baru juga datang menuju ruang klub musik. Mereka semua meyakini Devi untuk
mau bergabung dengan Lady White. Mereka semua juga tidak keberatan kalau Devi
masuk menjadi anggota Lady White tanpa harus diseleksi. Sebab mereka semua tau
betapa berpengaruhnya Devi dalam kembali bangkitnya Lady White. Devi sangatlah
tidak percaya tentang semua itu, dia merasa bahwa mimpinya akan menjadi nyata.
Tasya meyakini Devi lagi, agar Devi tidak mengecewakan semuanya. Devipun
tersenyum, dan dia bersedia menjadi anggota baru Lady White. Setelah itu mereka
semua langsung berpelukan.
Besoknya mereka semua berkumpul kembali diruang
klub Idol. Mereka membicarakan apa yang harus dilakukan oleh Lady White setelah
ini. Adel dan Dena mengusulkan untuk mengadakan konser Lady White disekolah.
Karena Lady White juga harus memperkenalkan anggota barunya kepada siswa dan
siswi di sekolahnya. Usulan dari Adel dan Dena disambut positif oleh anggota
Lady White yang lain. Dena juga mengatakan bahwa dia akan meminta izin kepada
kepala sekolah, soalnya dia kan juga pernah menjadi bagian dari OSIS, dan dia
juga akan berusaha untuk mendapatkan izin dari kepala sekolah. Lalu Devi
berpendapat lagi, bahwa di konsernya nanti, Lady White harus bisa menyanyikan satu
lagu asli dari Lady White.
Mereka akan mempertimbangkan semuanya, namun
terlebih dahulu mereka ingin meminta izin kepada kepala sekolah. Dena dan Tasya
menuju ruang kepala sekolah, dan mereka berdua mencoba meminta izin. Setelah
berbincang dengan cukup lama, akhirnya mereka mendapat izin dari kepala
sekolah. Hanya saja kepala sekolah mengizinkannya pada akhir bulan, atau lebih
tepatnya kurang dari 3 minggu lagi. Dengan waktu yang sangat sedikit, mereka
harus berusaha untuk memberikan penampilan yang terbaik. Tasya memberikan kabar
gembira ini kepada anggota Lady White yang lain. Intan merasa tidak yakin jika
Lady White bisa membawakan lagunya sendiri, apalagi waktu yang diberikan
sangatlah singkat sekali.
Lalu Devi memberikan sebuah kertas yang berisi
lirik lagu dari sakunya. Lirik itu diciptakan oleh Devi sendiri, dan Devi
sangat ingin sekali jika lagunya bisa dinyanyikan oleh Lady White. Hanya saja
lirik itu belum mempunyai nada. Anggota Lady White membaca lirik yang diberikan
oleh Devi, dan mereka sangat menyukai liriknya. Ketika mendapatkan respon yang
positif dari anggota Lady White, akhirnya Tasya sebagai pemimpin dari Lady
White membagi 3 kelompok. Kelompok pertama diisi oleh Tasya, Dena, dan Alsa
untuk mencari koreografi yang cocok untuk lagu ini. Kelompok kedua diisi oleh
Intan, Shinta, dan Dinda untuk mencari nada yang tepat untuk lagu ini.
Sedangkan kelompok ketiga diisi oleh Devi, Ayu, dan Adel untuk membuat desain baju
yang cocok untuk lagu ini.
Akhirnya mereka semua menyetujui pembagian
kelompok yang diberikan oleh Tasya. Karena mulai besok sekolah akan libur
selama 2 hari, Tasya berharap agar kelompok yang sudah dia bagi dapat
menjalankan tugasnya dengan baik. Lalu mereka saling menyatukan tangan mereka,
dan berkata bahwa Lady White pasti bisa. Tasya mengajak Dena dan Alsa untuk
berlatih dirumahnya. Soalnya rumahnya Tasya cukup luas, sehingga mereka bisa
dengan mudah untuk membuat koreografi yang baru. Kelompok kedua berkumpul
dirumahnya Dinda, soalnya Dinda memiliki studio rekaman, sehingga mereka bisa
bebas mencari nada yang cocok untuk lagu ini. Sedangkan Devi mengajak Ayu dan
Adel untuk mengunjungi villanya yang ada di Bogor. Karena Devi yakin, bahwa
mereka pasti akan mendapatkan ide untuk membuat desain ketika berada di udara
yang sejuk.
Sebelum berangkat menuju villanya Devi, Ayu dan
Adel sangat terkejut sekali ketika melihat seseorang yang sudah tidak asing
lagi bagi mereka. Dan orang yang mereka lihat adalah ibu kepala sekolah.
Ternyata kepala sekolahnya adalah ibunya Devi. Ibunya Devi mengatakan agar
mereka berdua tidak usah takut ataupun sungkan dengannya. Disekolah, ibunya
Devi memang menjadi kepala sekolah untuk mereka. Tapi jika diluar sekolah, maka
ibunya Devi hanyalah seorang ibu saja. Ibunya Devi juga berpesan agar mereka
bisa sukses di konsernya nanti. Dan ibunya Devi juga berjanji akan selalu
mendukung Lady White. Karena berkat Lady White, sekolahnya kini sudah dikenal
oleh banyak orang. Ayu dan Adel mengucapkan terima kasih sekali kepada ibunya
Devi. Setelah itu mereka langsung berangkat menuju villa milik keluarganya
Devi.
3 hari kemudian, mereka semua sudah kembali masuk
sekolah lagi. Mereka berkumpul di ruang klub idol. Pertama, kelompok 2
memutarkan sebuah nada yang sudah mereka rekam. Dan nada itu sangatlah pas
sekali dengan lirik lagu yang Devi buat. Merekapun setuju dengan nada yang
dipilih oleh kelompok 2. Devi juga mengucapkan terima kasih, karena akhirnya
lagu ciptaannya sudah memiliki nada. Tapi Devi juga mengatakan bahwa lagu ini
bukan miliknya sendiri, tapi kini menjadi miliknya Lady White. Kemudian Devi
memberikan sebuah desain baju yang mungkin akan dikenakan oleh Lady White
ketika menyanyikan lagu ini dikonser nanti. Anggota yang lain sangat tersanjung
sekali ketika melihat hasil desain dari kelompok 3.
Setelah nadanya sudah ditemukan, kini tugasnya
bagi seluruh anggota Lady White untuk menyatukan dengan koreografi yang sudah
dipelajari oleh kelompok 1. Hingga akhirnya mereka berhasil menyatukan
semuanya. Besoknya, mereka sudah mulai untuk berlatih. Sebab mereka benar-benar
ingin memberikan yang terbaik untuk semuanya. Ketika sedang berlatih, tiba-tiba
Intan menanyakan tentang siapa orang yang akan menempati posisi center dilagu
ini?. Karena Tasya adalah kaptennya, maka Devi berkata bahwa Tasyalah yang akan
menempati posisi center. Tapi Tasya menolaknya, sebab dia tidak pantas berada
diposisi center. Meskipun dia adalah pemimpinnya, tapi bukan berarti dia harus
menjadi center.
Tasya mengatakan bahwa semua anggota Lady White
bisa menjadi center. Tapi untuk lagu Lady White yang pertama, maka Tasya ingin
agar Devilah yang menjadi center dilagu ini. Usulan Tasya disambut positif oleh
anggota yang lain. Mereka semua menyetujui jika Devi menjadi center dilagunya.
Awalnya Devi menolaknya, karena dia masih belum pantas berada diposisi center.
Tapi Tasya, dan anggota Lady White yang lain terus meyakini Devi. Hingga
akhirnya Devi menerima keputusan dari teman-temannya, dan dia juga mengucapkan
terima kasih karena sudah mempercayainya. Sebelum konsernya dilaksanakan, Intan
meminta izin kepada Tasya untuk membolehkannya mengundang Vina dan Anita datang
di konser Lady White. Sebab biar bagaimanapun Intan merasa bahwa Vina dan Anita
adalah teman sekelasnya Intan, dan mereka berdua pernah menjadi bagian dari
Lady White.
Selain itu Lady White juga terbentuk karena mereka
berdua. Meskipun Tasya sedang ada masalah dengan Vina, tapi dia menghormati
keputusan dari Intan. Tasya juga mengatakan bahwa Intan wajar melakukan hal
itu, karena Vina dan Anita adalah temannya Intan. Intan sangat senang dengan
keputusannya Tasya yang tidak egois, lalu dia langsung memeluk sepupunya itu.
Kemudian Intan langsung menuju kelasnya. Kemudian dia berbicara kepada Vina dan
Anita. Vina masih terlihat terlarut didalam kesedihan. Anita juga tidak
berjanji akan datang dikonsernya Lady White. Tapi dia berjanji akan datang,
jika nanti Vina bersedia untuk datang juga. Intan sangat berharap sekali agar
mereka berdua bisa datang dikonsernya Lady White.
Akhirnya konser Lady White dilaksanakan. Konsernya
dilaksanakan di aula sekolah. Sebab aula sekolahnya cukup luas. Vina dan Anita
juga terlihat hadir menonton konser Lady White. Dan mereka berdua menonton
dibagian tengah. Sebelum Lady White tampil, terlebih dahulu Lady White
memperkenalkan anggotanya. Satu persatu anggota Lady White memperkenalkan
dirinya masing-masing.
“Hallo
semuanya, aku Oktavia Shinta dari kelas 12-3. Meskipun aku ceroboh dan pelupa,
tapi aku tidak akan pernah melupakan konser pertama aku di Lady White ini.
Mohon bantuannya yaa semua.” Shinta berkata dengan penuh semangat
“Aku
Dinda Juliani dari kelas 11-4. Meskipun aku pemalu dan terkesan tomboy, tapi
aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik untuk semuanya. Jadi mohon
bantuannya juga yaa semuanya.” Kata Dinda
“Aku
Alsa Ranita, gadis kecil yang berasal dari kelas 10-1. Meskipun aku yang paling
kecil, tapi aku mencoba untuk menjadi yang paling semangat, mohon bantuannya
yaa semua.” Ucap Alsa dengan penuh ceria
“Hai
semua, aku Ayunita Ilona dari kelas 11-1. Meskipun gerakan aku yang paling
buruk diantara yang lain, tapi aku akan terus belajar agar bisa lentur. Mohon
bantuannya yaa teman-teman.” Ayu berkata dengan senyum
“Ohayou
semuanya, aku si gadis ceria yang selalu ingin bersemangat. Perkenalkan aku
Devi Kurnia dari kelas 10-3. Mohon bantuannya yaa semua, agar Lady White bisa
sukses bersama dengan kalian.” Kata Devi, yang membuat anggota Lady White lain
menjadi terkejut, namun menjadi lebih bersemangat lagi
“Hello
guys and sis, aku Natasya Anjani dari kelas 11-1. Seorang gadis lentur yang
sedang mencoba untuk memimpin teman-temannya. Jadi mohon bantuannya yaa
semuanya, agar aku dan teman-teman dari Lady White bisa maju bersama kalian
semua, serta bisa membanggakan sekolah kita yang tercinta ini.” Ucap Tasya
“Aku
Dena Salsabila dari kelas 12-2. Meskipun usia aku paling senior disini, tapi
semangat aku tidak akan kalah seperti adik-adik yang lain. Mohon bantuannya yaa
agar Lady White bisa bersinar seperti pelangi yang penuh warna.” Kata Dena
“Hai
teman-teman, aku Intania Putri dari kelas 11-2. Kata teman-teman sih, aku ini
punya suara yang khas seperti Donald bebek. Apakah itu benar? Hehehe, mohon
bantuannya yaa teman-teman.” Intan berkata dengan tersenyum
“Hallo
kakak-kakak, dan hallo semuanya. Aku Annisa Adelia dari kelas 10-3. Meskipun
aku tidak jelas, tapi senyumanku akan menebarkan keceriaan untuk semuanya. Aku
mohon bantuannya yaa. Dan mari kita memegang erat tangan kita bersama untuk
menatap kedepan.” Ucap Adel dengan senyum khasnya
“Terima
kasih semuanya.” Mereka berkata bersama-sama dengan penuh semangat dan ceria,
lalu diiringi juga dengan tepuk tangan yang sangat meriah
Anita yang menontonnya juga memberikan tepuk
tangan kepada mereka. Setelah itu mereka langsung menampilkan penampilannya.
Mereka membawakan 4 lagu, dan satu diantaranya adalah lagu dari Lady White.
Usai mereka mengcover 3 lagu, akhirnya tibalah mereka untuk menyanyikan lagu
asli dari Lady White. Tasya menyuruh Devi untuk mengenalkan lagu ini. Devi
merasa bahwa Tasyalah yang seharusnya mengenalkan lagu ini. Tapi Tasya justru
balik berkata, bahwa seorang centerlah yang harusnya mengenalkan lagu ini.
Tasya juga memberikan semangat kepada Devi.
Kemudian Lady White naik keatas panggung, dan
bersiap untuk tampil lagi. Siswa dan siswi sangatlah takjub sekali melihat
kostum baru dari Lady White. Vina yang awalnya tidak terlalu menikmati, kini
langsung berubah dan juga takjub melihat kostum Lady White. Vina bingung, lalu
dia bertanya kepada Anita tentang lagu apakah yang akan dinyanyikan oleh Lady White?.
Anita juga tidak mengetahuinya, lalu dia menyuruh Vina agar menikmati saja lagu
yang akan dibawakan oleh Lady White. Devi maju kedepan, dan memperkenalkan
lagunya.
“Mungkin
kalian bingung dengan seifuku ataupun kostum apa yang kami pakai?. Seifuku ini
kami pakai sekalian kami ingin memperkenalkan lagu terakhir yang ingin kami
bawakan. Lagu yang akan kami bawakan selanjutnya adalah lagu asli dari Lady
White. Lagu ini menceritakan tentang Lady White yang sedang mencoba untuk
bangkit setelah cukup lama vakum. Dan lagu ini kami beri judul ‘Melangkah
Kembali’. Dengan perubahan konsep Lady White yang awalnya adalah cover idol
menjadi idol sekolah. Maka dari itu kami ingin membuat karya-karya dari kami
sendiri. Agar kami bisa memenuhi syarat untuk mengikuti festival idol sekolah
nasional yang beberapa bulan lagi akan dilaksanakan. Festival idol sekolah
nasional juga melalui beberapa penyisihan. Mulai dari penyisihan tingkat kota,
penyisihan tingkat provinsi, hingga akhirnya tingkat nasional. Semoga kalian bisa
menikmati lagu ini yaa. Dan kami sangatlah membutuhkan bantuan dari kalian.
Mari kita melangkah kembali bersama-sama.” Devi mencoba memperkenalkan lagunya,
lalu setelah itu mereka mulai menyanyikan lagunya bersama
Ketika Lady White mulai bernyanyi, semua penonton
pada terdiam karena menikmati lagu itu. Vina juga tak pernah melepaskan
pandangannya melihat penampilan dari Lady White. Anita memperhatikan Vina, dan
dia sangat tidak menyangka ketika melihat Vina dengan serius memperhatikan
penampilan dari Lady White. Tapi Anita juga merasa senang, karena akhirnya Vina
sudah mulai melupakan kesedihannya. Usai konsernya selesai, semua anggota Lady
White mengucapkan terima kasih kepada semuanya karena sudah mau menonton konser
Lady White. Tidak lupa juga Tasya mengatakan mohon bantuannya kepada
penontonnya. Setelah itu semua penonton bertepuk tangan untuk Lady White,
termasuk Vina dan Anita.
Satu persatu penonton meninggalkan tempat diadakan
konser itu. Anita juga mengajak Vina untuk pulang kerumah. Ketika sedang
berjalan, tiba-tiba ada yang memanggil mereka. Ternyata yang memanggil mereka
adalah Intan dan Ayu. Intan dan Ayu mengucapkan terima kasih kepada Vina dan
Anita karena sudah menyempatkan waktunya untuk menonton konser Lady White.
Anita merasa tidak keberatan, karena biar bagaimanapun Intan, Ayu, dan termasuk
Tasya adalah temannya. Dan Lady White juga salah satu kebanggaan dari sekolah
ini. Maka dari itu Anita dan Vina pasti akan menyempatkan waktunya untuk datang
dan mendukung Lady White.
Vina juga memberikan selamat kepada
teman-temannya, karena Lady White sudah sukses melaksanakan konsernya. Vina
juga berharap agar Lady White bisa berpartisipasi dalam Festival Idol Sekolah
Nasional. Intan dan Ayu mengucapkan terima kasih kepada Vina, lalu mereka saling
berpelukan. Kemudian Intan dan Ayu meminta izin untuk kembali berkumpul dengan
anggota Lady White yang lain lagi. Vina dan Anita mempersilakan mereka. Kemudian
Vina meminta izin kepada Anita untuk pergi ke toilet. Anita mengizinkannya,
tapi dia minta maaf karena tidak bisa ikut dengannya. Sebab Anita merasa
kehausan karena daritadi menyaksikan konser Lady White. Tapi Anita mengatakan
bahwa dia akan menunggu Vina di kantin. Vina meninggalkan Anita dan langsung pergi
ke toilet.
Selesai buang air kecil, Vina mencuci tangannya.
Ketika dia ingin keluar dari toilet, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Dan
ternyata orang itu adalah Devi. Devipun menyapa Vina dengan senyum. Vina
membalasnya dengan senyum juga, tapi Vina tidak mengingat namanya Devi.
Tiba-tiba Devi berkata kepada Vina, “Kak, lupakanlah semua masalah yang telah
terjadi. Kita boleh bersedih, tapi jangan sampai berlarut-larut. Diluar sana,
banyak orang yang mengharapkan senyum dari kakak. Lady White sudah mulai
melangkah kembali, kini giliran kakak yang memulai melangkah. Aku ada sebuah
tulisan yang aku tulis sendiri, semoga ini bisa membantu kakak untuk melangkah
kembali, semangat yaa kak”. Devi memberikan sebuah kertas kepada Vina, lalu Devi
langsung meninggalkan Vina.
Vina bingung dengan apa yang diucapkan oleh Devi.
Vina keluar dari toilet, dan mencoba mencari keberadaan Devi disekitar situ.
Namun Vina tidak menemukannya, apalagi dia juga tidak mengetahui namanya. Lalu
Vina mencoba untuk membuka tulisan yang ada dikertas itu. Ternyata itu adalah
sebuah syair, Vina semakin tidak mengerti dengan semua ini. Judul syair itu
adalah ‘Genggamlah Tanganku’, dan Vina membaca syairnya. Vina terkejut, karena
kata-kata yang ada didalam syair itu seperti apa yang Vina rasakan. Setelah
membaca ini, Vina menjadi sadar dan dia harus kembali bangkit lagi. Vina juga
merasa tidak boleh terlarut-larut dalam kesedihan ini. Ditinggal pergi oleh
seseorang yang dicintai itu memang menyakitkan, tapi Vina juga masih mempunyai
masa depan yang panjang.
Vina merasa bahwa dia dan Anita harus bisa
melangkah kembali seperti halnya Lady White. Tiba-tiba Anita datang menghampiri
Vina, sebab dia merasa sudah lama sekali menunggu Vina. Kemudian Vina
memberitahu kertas yang tadi dia dapatkan kepada Anita. Anita terkejut, lalu dia
langsung membaca kertas itu. Usai membacanya, Anita mengusulkan kepada Vina
untuk melangkah kembali seperti Lady White. Vina setuju usulan dari Anita, tapi
dia juga bingung ingin memulai dengan konsep apa? Apakah harus menjadi idol
sekolah seperti Lady White lagi?. Anita juga mempertimbangkan perkataan dari
Vina. Namun setelah membaca ini, Anita merasa bahwa syair ini tidak cocok jika
dibawakan oleh idol sekolah.
Vina bingung dengan perkataan dari Anita. Anita
menjelaskan lagi, bahwa dia ingin syair ini menjadi sebuah lagu yang akan
mereka nyanyikan. Maka dari itu, Anita lebih memilih agar mereka berdua
menghilangkan unsur dance dan menggunakan keterampilan yang mereka miliki. Vina
semakin tidak mengerti dengan perkataan dari Anita. Anita menjelaskan lagi,
bahwa dia ingin membuat sebuah band yang hanya terdiri dari 2 orang saja. Sebab
Vina bisa memainkan gitar, dan Anita bisa memainkan keyboard. Vina baru paham,
dan dia juga menyetujui usulan dari Anita. Tapi Anita menanyakan darimana
kertas itu Vina dapatkan. Vina mengatakan bahwa ada seseorang yang
memberikannya, tapi Vina tidak tau siapa yang memberikannya.
Anitapun merasa tidak penting siapa yang
memberikannya, tapi Anita yakin orang itu memberikannya karena ingin melihat
Vina untuk bangkit kembali. Anita juga sadar bahwa inilah jalan yang akhirnya
mereka dapatkan. Vina bertanya kepada Anita, tentang nama apa yang akan mereka
pakai untuk band ini. Anita mengusulkan beberapa nama yang berasal dari
singkatan nama Anita dan Vina. Nama yang diusulkan Anita juga bagus-bagus. Lalu
Vina menyuruh untuk menyebutkan salah satu nama yang tadi sudah disebutkan oleh
Anita secara bersama-sama. Jika nama itu dikatakan dengan bersama-sama, maka
nama itu akan dipakai untuk menjadi nama band mereka. Lalu Anita memulai aba-aba,
dan menghitung mundur dari angka 5. Lalu mereka mengucapkan satu nama, dan
akhirnya mereka mendapatkan sebuah nama, yaitu Vinita.
Mereka mengucapkan kata Vinita secara
bersama-sama. Usai mendapatkan namanya, Anita juga berkata bahwa besok dia akan
meminta izin kepada klub musik, agar mereka bisa diperbolehkan untuk memakai
ruangan klub musik. Vina setuju, tapi Vina justru ingin mereka berdua pergi
bersama-sama untuk meminta izin kepada anggota klub musik. Anita menyetujuinya,
lalu mereka berdua pergi bersama untuk pulang. Anita senang, karena akhirnya
dia bisa melihat Vina semangat lagi. Anita juga berharap, agar besok mereka
diberikan kelancaran untuk memulai bermimpi lagi. Anita pernah melihat Vina
sedih secara berlarut-larut, maka dari itu Anita tidak ingin melihat sahabatnya
menjadi sedih lagi. Anita hanya ingin melihat Vina selalu ceria seperti ini.
Anita juga merasa bahwa lagu ini sangat cocok untuk menjadi awal baginya. Sebab
Anita ingin Vina selalu menggenggam tangannya, dan terus bermimpi bersamanya.
Ternyata diam-diam Devi menguping pembicaraan
mereka. Devi juga merasa senang, karena akhirnya dia bisa melihat Vina ceria
kembali. Meskipun Devi tidak mengenal Vina secara langsung, tapi Devi tau siapa
Vina sebenarnya. Vina adalah salah satu orang yang menjadi idolanya Devi.
Sebelum dia menjadi seorang penari modern, Devi pernah mengikuti lomba
bernyanyi ketika SD. Devi tertarik sekali untuk menyanyi, karena dia pernah
melihat seorang anak perempuan yang mengikuti lomba bernyanyi nasional. Dan anak
perempuan itu adalah Vina sewaktu kecil. Devi pernah diajak oleh orang tuanya
untuk menonton lomba menyanyi.
Awalnya Devi merasa bosan, namun ketika dia
melihat Vina yang bernyanyi dengan penuh aura dan membuat penonton merasakan
apa yang dia nyanyikan, Devi menjadi semangat untuk menontonnya. Bahkan Devi
juga meminta izin kepada orang tuanya untuk les bernyanyi dan ingin mengikuti
lomba bernyanyi seperti Vina. Tapi ketika dia mulai ikut lomba bernyanyi, Vina
justru mengundurkan diri. Padahal lomba itu adalah lomba terakhir Vina, karena
tahun depannya Vina akan masuk SMP. Meskipun Devi menjadi juara pada saat itu,
tapi dia merasa tidaklah puas. Karena dia tidak bisa bersaing dengan idolanya,
yaitu Vina. Maka dari itu, Devi berhenti untuk bernyanyi. Namun Devi tetap
ingin mempelajari alat musik lain, sebab Devi ingin menemukan bakat
sesungguhnya yang dia miliki.
Devipun bisa mempelajari semua alat musik, hanya
saja semua yang dia mainkan tidak bisa masuk kedalam jiwanya. Akhirnya Devi
mendapatkan kabar bahwa Vina menjadi seorang cheerleader di SMPnya. Devi mulai
tertarik lagi, dan dia bersungguh-sungguh belajar agar bisa masuk SMP yang ada
klub cheerleader. Hanya saja, orang tuanya Devi menginginkan agar Devi bisa
sekolah di Bandung, karena ibunya mendapatkan tugas di Bandung. Devipun tidak
bisa menolak itu, dan akhirnya dia pindah ke Bandung bersama orang tuanya.
Ketika Devi sudah bersekolah di Bandung, beberapa bulan kemudian Ibunya
mendapatkan tugas kembali di Jakarta. Namun ibunya menyuruh Devi untuk tetap
sekolah disitu sampai lulus, dan Devi harus tinggal bersama dengan neneknya.
Selain itu, ibunya juga ingin Devi belajar
mandiri. Apalagi semakin lama Devi semakin menjadi dewasa. Lagi-lagi Devi tidak
bisa menolak keinginan dari orang tuanya. Disekolahnya ternyata tidak ada klub
cheerleader, dan hanya ada tarian modern. Devipun mengikuti itu, karena Devi
merasa bahwa tari modern tidak berbeda jauh dengan cheerleader. Tapi dia juga
belum bisa menemukan jati dirinya di tarian modern. Temannya Devi mengajaknya
untuk menonton lomba tari modern tingkat provinsi. Disitu Devi mulai menjiwai
tarian modern, apalagi ketika dia melihat Tasya. Tasya menjadi inspirasi Devi
untuk terus mengikuti tari modern. Dan Tasya juga menjadi salah satu orang yang
Devi kagumi, setelah Vina.
Devi terus belajar dan berusaha, hingga akhirnya
dia berhasil mewakili sekolahnya untuk ikut tari modern tingkat provinsi. Devi
berhasil melaju dengan mulus, namun dia kalah poin dari Tasya. Sehingga Devi
hanya berhasil menjadi juara kedua. Tapi Devi tidak bersedih, melainkan dia
bangga sekali karena bisa satu panggung dan bersaing dengan seorang yang dia
kagumi. Dan karena Tasya juga, akhirnya Devi bisa menemukan bakatnya yang lain,
dan dia juga menikmati bakat barunya itu. Hari demi hari, Devi terus mengikuti
perkembangan dari Tasya dan Vina melalui internet. Hingga akhirnya dia dapat
kabar bahwa Tasya dan Vina satu SMA, dan SMAnya adalah tempat ibunya menjadi
kepala sekolah.
Lalu Devi meminta izin kepada ibunya, agar dia
bisa pindah ke Jakarta lagi, dan masuk di SMA ibunya bertugas. Ibunya tidak
melarang, namun ibunya mengatakan bahwa dia tidak akan membedakan Devi. Jadi
Devi harus bekerja keras untuk masuk SMA itu, apalagi SMA itu termasuk SMA
favorit di Jakarta. Devi mengucapkan terima kasih kepada ibunya, dan berjanji
untuk belajar yang rajin agar bisa masuk di SMA itu. Hingga akhirnya Devi bisa
diterima di SMA tersebut. Devi tersenyum mengingat kembali perjuangannya untuk
berada disini. Devi juga merasa bahagia, karena akhirnya dia bisa memberikan
semangat untuk kedua idolanya.
Lalu Devi menelepon seseorang, dan dia berkata
“Kak, sebentar lagi semuanya akan kembali seperti semula. Aku juga berjanji,
aku akan berusaha keras bersama dengan mereka”, kemudian Devi menutup
teleponnya lagi. Devi benar-benar senang sekali, karena mimpinya berhasil
menjadi nyata. Devi mengatakan bahwa dia ingin melangkah kembali bersama dengan
kedua idolanya, serta bersama dengan teman-teman yang lain. Devi juga yakin
bahwa masih banyak bintang yang akan dia dapatkan. Tiba-tiba ada yang memanggil
Devi, dan ternyata yang memanggilnya adalah anggota dari Lady White. Devi
menghampiri mereka, dan meminta maaf karena sudah membuat teman-temannya
khawatir. Kemudian mereka berjalan bersama-sama dengan penuh ceria.
SELESAI.
Mungkin
hanya ini yang bisa saya ceritakan. Mudah-mudahan cerita tentang ‘Kita Kan
Slalu Bersama’ akan terus berlanjut. Tapi saya akan memastikan bahwa cerita ini
akan berlanjut, sebab cerita yang saya tulis ini belum sepenuhnya selesai.
Masih ada perjuangan dari Lady White untuk ikut Festival Idol Sekolah Nasional.
Dan juga masih ada perjuangan awal dari Vinita. Jika ada yang penasaran, tunggu
nanti yaa sahabat blogger. Apabila ada salah-salah kata, maka saya mengucapkan
maaf yang sebesar-besarnya. Sebab saya hanyalah manusia biasa yang tidak pernah
lepas dari kesalahan. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktunya untuk
membaca dan mengunjungi blog saya. Sekali lagi, Terima Kasih. ^_^
Subscribe to:
Comments (Atom)